11 April 2012, Terinspirasi dari gerakan Blood For Life yang mulai popular di situs jejaring social, akhirnya membawa saya berminat untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan donor darah. Selain mendengar kisah dari Mbak Valencia M R (@justsilly) dan Mbak Ina Madjidhan (@inagibol) secara live saat taping kick andy beberapa bulan yang lalu, motivasi untuk mendonorkan darah pun semakin kuat dalam diri saya, setelah ketika suatu saat saya ke rumah sakit daerah di kota saya dan menyaksikan kejadian yang menurut saya memprihatinkan (mungkin saya ceritakan di lain kesempatan) . Saya percaya bahwa selalu ada jalan untuk setiap keinginan baik yang ingin kita lakukan. Meskipun sempat mengalami penolakan donor dibeberapa lokasi donor darah dikarenakan karena kondisi tubuh yang kurang fit saat pengecekan donor, entah itu kadar Hb , tekanan darah, dan lainnya, akhirnya donor darah pertama saya berjalan dengan baik.
Langkah-langkah (1)
Terima Kasih, itulah yang ingin saya ucapkan mengawali tulisan ini. Akhirnya bisa kembali update di blog, setelah sekian lama vakum, dan hanya sekedar “blogwalking”. Saya akui lebih mudah menulis ketika mode dalam otak saya sedikit melankolis, dan mungkin banyak momen menarik yang saya temui hari ini. Naik bus kota bagi sebagian orang mungkin suatu yang biasa saja. Biasa dengan polusinya, pengamennya, hingga macetnya. Tapi sejak sebulan yang lalu, saya sangat menikmati ketika jam 06.30, saya terbiasa berpacu dengan P11 jurusan Terminal Senen, dengan segala euphorianya (baca: suka duka).
Yaa,, sejak bertugas sementara di Lapangan Banteng, saya mulai terbiasa dengan rutinitas ibukota. Malah kalo Jakarta enggak macet tuh aneh buat saya, meskipun saya hampir 4 tahun di Jakarta ya. Belakangan saya justru merasakan bahwa saat saya dalam bus kota, adalah waktu yang pas untuk “me-time”. Jadi tadi pas di Bus kota saya melihat seorang ibu yang menggendong anaknya, dan saya inget Ibu saya di Rumah. Lihat anak-anak ABG SMA masuk sekolah, saya ingat masa imut-imut SMA saya, sampai akhirnya saya melihat seorang lansia yang masih harus menikmati udara kotor Jakarta, dan saya mulai menerawang jauh kedepan, “apakah saya akan seperti ini ?”
Terlepas dari itu semua, saya selalu berusaha menyadarkan diri saya bahwa segala yang sedang terjadi di depan saya, memang harus terjadi, dan akan terjadi jika itu belum terjadi. Apakah itu salah ? tidak ada yang salah dengan semua itu. Saya flashback ketika dulu kecil diajak Ibu ke Pasar berjualan untuk menghidupi keluarga, melihat bapak yang bekerja keras untuk saya dan ibu, begitu hebatnya perjuangan kedua orang tua saya, hingga akhirnya bapak menyelesaikan studi s3 beliau dan saya mengenal Jakarta, sebuah kota yang nyaris tidak akan ada dalam kamus mimpi saya.
Dulu ketika SD, guru saya bertanya siapa pahlawan kebanggaanmu ? saat itu saya bingung, dan menjawab Soekarno dan Cut Nyak Dien. Tapi sejenak saya menyadari Bapak dan Ibu saya adalah pahlawan bagi saya. Begitu jauh perjalanan yang telah saya lalui, kaki mungil saya telah berpijak di sebuah daratan mimpi yang bernama Jakarta. Mungkin bukan sebuah kebanggaan, tapi inilah jalan yang Tuhan berikan untuk belajar bersyukur atas apapun kondisi kita saat ini. Jalan masih panjang, Cerita baru akan ditulis, Mimpi sedang di rajut, biarkan Cinta mengalir didalamnya, dan Halte Wahidin sudah memanggil saya pagi itu,
All is Good
Menjadi “Tua” secara fisik adalah pasti, namun menjadi “Dewasa” memang merupakan sebuah pilihan bagi setiap orang. Menjadi sosok yang mumpuni dalam suatu hal tertentu belum tentu dapat dikatakan sebagai seseorang yang “Dewasa”. “Being complete and perfect” bagi sebagian orang mungkin hanya sebuah slogan belaka yang mereka baca dan ingat ketika mereka membaca sebuah buku motivasi atau mereka tengah menyemangati diri mereka sendiri.
Terlepas dari paradigma seperti itu, kadang-kadang (atau bahkan “sering”) respon yang kita berikan terhadap suatu hal sering kali bercermin pada apa yang terjadi, bukan pada apa yang seharusnya kita lakukan. Kesan akan suatu hal ditentukan dengan bagaimana kita merespon hal tersebut dari sudut pandang “Aku”, diri kita sendiri.
One Moment in Time, STAN Judicium 2011
September’ 22 2011, What a wonderful day in my life time. Along the night before I can’t close my eyes, just laying on my bed, my mind fly higher and higher. Maybe I agree with the quote, “Time is Achievement “. It’s about 3 years ago, When I came to Jekarda, begin a new chapter of my real life. I’m being a parts of Indonesian Accountancy College (STAN) as a new student. Focused in majority of appraiser and taxes, I find a new family, new friends, new life. Whatever I’ve been done in the past of 3 years, It made me know that I’m grow up from everything happened, and now I’m a different man.
A lovely sunshine warmed my heart on the Judicium day. Seing my friends used white blouse with black tie on that day, remembered me when we got an orientation before being a new student legally, We called it, DINAMIKA. After registration, I got the first line, sit down and meet the other friends. In my own I feel that I’m still a beginner, you know, This Graduation isn’t the end, It’s just a beginning for the next my life chapter.
The Yudisium’s started by singing Indonesia Raya, Mind you, in every moment of nationalism, we never could forget this awesome song. The song that made us as ONE, That’s why I’m proud being IndONEsian. Then the ceremony continued by speech by Mr. Kusmono, our Taxes and Appraiser Majority Principal. In his speech, he remembered us “Five values of Treasury Ministry”. There’re Integrity, Profesionalism, Inovation, Team Work, and Perfectly. He also read the closing statement of Judicium. “It’s so hard to say Good Bye with You all, I’m just said Welcome fresh alumny of Taxes and Appraiser STAN 2011”
“You’ve Got a Friend” singing perfectly by my friend, Hilman Butar-Butar close the Judicium Ceremony. You know my feeling guys, I can’t say anything, I wanna cry. I’m seeing our best effort for all along 3 years, doing the best, give the best we can give, be the best of we are. But mind you, It’s no matter how genius you are, The most important is, You can see the most beautiful smile of your friends on the moment. The moment that never forget in my life time.
Thanks for everything God, my lovely parents, STAN secretariat,( Mr. Kusmanadji, Mr. Kusmono, Mbak Inung, Mbak Ayu, Mas Faris, etc), KMHB (Keluarga Besar Mahasiswa Hindu Budha) STAN, All of My lecturers, My Appraiser and Taxes 2008 Big Family, and my friends who always supported me along the time. I’m nothing without you guys. Thanks for being my life story.
Rest In Peace
The place where there’s no happiness and sadness. The place where everyone’s going to in the end of journey. The place where hope’s still alive forever. Rest in peace my Grandpa, we love you as always.
Dearest, I Wayan Sugiarta Family
Minggu 18 September 2011, 11.25 WIB, Handphone saya berdering, telepon dari tante di Jakarta. Saya menjawab, lalu terdiam dan menangis, darah saya serasa memenuhi kepala, pikiran melayang entah kemana, entah mau bilang apa, saya kalut. Masih tidak percaya dengan telepon tadi saya langsung menelpon Ibu di Bali, seperti sudah tahu kemana pertanyaan saya, yang terdengar hanya isak tangis mereka, kata terakhir yang menempel di telingga saya, “Yang sabar ya, kita ikhlasin semuanya”. Saya masih terisak dan menutup telpon. Kakek saya telah berpulang.
Empat hari yang lalu, beliau sedang melaksanakan tugas di Makassar, pada rabu malam kami dikagetkan dengan berita bahwa beliau masuk ke rumah sakit, mengalami pendarahan di otak, dan koma selama kurang lebih 2 hari. Pada saat yang bersamaan keluarga langsung berangkat ke Makasar. Sedangkan saya harus kembali ke Jakarta pada tanggal 17 September untuk mengikuti yudisium di kampus. Tidak ada perasaan yang janggal, saya dan bibi saya sangat yakin beliau akan kembali pulih, ya Beliau tidak pernah memiliki riwayat penyakit seperti ini sebelumnya, dan kami tahu beliau adalah sosok yang kuat dan tegar.
Beliau di mata saya adalah sosok pengayom yang baik. Beliau adalah adik nenek kandung saya, dari keluarga besar ibu, tapi bagi saya beliau adalah kakek saya, penyemangat saya. Bagi saya beliau adalah founding father, beliaulah orang pertama yang mengenalkan Jakarta pada saya, beliaulah yang menceritakan dan mengarahkan untuk masuk prodip keuangan, hingga akhirnya saya menyelesaikan pendidikan saya di Jakarta, dan hidup saya berubah.
Beliau adalah tulang punggung keluarga besar kami, seorang penunjuk jalan bagi anak, dan cucu-cucunya. Dibalik jadwal yang terlampau padat, saya terakhir bertemu beliau sebulan yang lalu, ketika saya berada di Bali selama kurang lebih 3 minggu. Saat itu beliau menelpon saya, dan mengatakan beliau ingin sekali bertemu dan sekedar bercerita. Setelah pulang kantor saya langsung mampir, dan kami bercerita kurang lebih 2 jam-an.
Belliau banyak bercerita tentang keluarga besar kami, tentang masa depan karir, tentang hidup. Saya akui itu adalah kali pertama beliau bercerita tentang hal itu. Ditemani dengan secangkir jeruk hangat obrolan kami mengalir begitu saja. Satu yang selalu saya ingat, pesan beliau, “kalau sudah kerja nanti, kejujuran itu harus, dan keluarga adalah yang utama”. Hingga detik inipun saya masih tidak percaya, bahwa itu adalah obrolan terakhir kami. Kini beliau sudah pergi meninggalkan kami, ke suatu tempat yang penuh kedamaian. Saya selalu mengantarkan beliau dalam doa. Lilin beliau telah menerangi hidup dan menunjukan jalan kami, Kami telah mengikhlaskan beliau, Semoga tenang disisiNya, Selamat Jalan.
Me-time (1) : Unconcious Travelling
Halo Dear Reader, Senang sekali kembali menyapa Anda semua. Bagimana hari anda hari ini ? Semoga hari ini menjadi hari terbaik yang pernah anda lewati dalam hidup anda tentunya. Pada tulisan saya kali ini saya ingin berbagi tentang pengalaman spiritual pribadi saya. Entah kenapa hingga saat ini, setelah relaksasi dan meditasi saya merasakan ketenangan dalam diri saya.
“Ayunan” Kehidupan
Pada suatu hari sambil menyantap makan siang disuatu tempat makan favorit saya, saya membaca sebuah artikel yang menarik karangan Renald Kasali, yang berjudul “Ekonomi Paradoks”, saya terinspirasi kata-kata pembuka dari artikel tersebut, yang mengutip pernyataan Charles Handy, “ Saat banyak orang mengeluh susah, sebenarnya kita sedang menuju keatas, sementara yang bersenang-senang dan merasa tak ada masalah, tengah menuruni tangga, meninggalkan ketinggian.”
Sejenak saya hanya diam, dan berhenti mengunyah makan siang saya, “ternyata bener juga ya” , kata saya dalam hati. Saya yakin dear reader pun pernah merasakannya bukan? disuatu titik kehidupan kita merasa sangat jenuh, beribu alasan untuk berhenti, begitu juga keinginan untuk menunda dan mengeluh. Tapi, ketika kita hanya “Just Do It” hasilnya kadang cukup bisa membuat kita terhibur, bahkan “whatever will be” adalah sesuatu terbaik yang pantas saya dan anda terima.
Pernah kah anda mendengar seorang sahabat berkata, “Live must go on !” atau “Move On !” . Ada hal yang dulu selalu mengganjal di benak saya, kenapa banyak orang mengindentikan perubahan yang lebih baik dengan kemajuan yang terjadi dalam hidup ? Atau sederhananya lagi, Kenapa kegagalan sangat diidentikan dengan kemunduran yang terjadi dalam kehidupan ? Bingung ? sebentar lagi kita menemukan jawabannya, teruskan membaca.
