Resensi “Madre”

Judul Buku    :  Madre, (Cetakan pertama, Juni 2011)

Penulis           :  Dewi “Dee” Lestari

Penerbit        :  Penerbit Bentang (PT Bentang Pustaka)

Tebal               : 160 Halaman

 

 

Setelah bergelut selama 2 malam, barulah rasa penasaran saya terjawab tentang Madre ini. Bukan Dewi Lestari namanya jika tak bisa membuat pembaca bertanya-tanya akan isi tulisannya dengan hanya membaca judulnya saja. Kumpulan cerita “Madre” yang dikemas secara unik ini telah mampu mencuri banyak mata, untuk mulai membacanya. Mungkin banyak diantara anda yang bertanya-taanya, Apa itu Madre ? Bayangan saya sebelum membaca ceritanya, Madre adalah nama seorang gadis latin berambut pirang, dengan senyum yang menawan, dan dengan lugas berkata, “Espanyola”. Tapi usut kali usut ternyata saya salah sangka.

“Madre” sebuah istilah yang berasal dari bahasa Spanyol yang berarti “ibu”. Dalam novel Dee kali ini Madre adalah sebutan untuk adonan biang, yang digunakan untuk membuat roti. Ia diberi makan tepung dan air baru secara rutin agar berkembang biak dan menjadi ibu bagi roti-roti lainnya. Cerita diawali dengan kisah Tansen, lelaki Bali yang datang ke Jakarta untuk mendapatkan warisan dari orang tak dikenal sebelumnya. Bukannya uang berlimpah atau harta karun, tapi Madre: Adonan. Mulanya kecewa, jauh-jauh datang dari Bali hanya untuk mendapat barang yang dinilainya remeh itu.

Tapi, Madre telah membuka rahasia. Dia menjadi tahu siapa sebenarnya kakeknya. Seorang pengusaha roti. Seorang kakek yang ingin mewariskan resep itu kepada generasi keturunannya. Dialah Tansen. Tensi semakin meningkat dengan dimunculkannya sosok Mei yang ingin membeli Madre dari tangan Tansen. Konflik dalam bathin Tansen dikupas secara apik dalam cerita ini. Lika-liku perjalanan kegelisahan Tansen hingga akhirnya Madre hampir dijual ke tangan Mey, namun niat itu urung dilakukan Tansen, “karena sebetulnya tidak ada yang bisa menjual ibunya sendiri”. Kata-kata inilah yang membuat saya terhenyak, seakan saya berada dalam alur cerita itu, saya terharu.

Akhirnya langkah yang diambil Tansen adalah menghidupkan kembali toko roti yang sudah 5 tahun berhenti itu, dengan bekerjasama dengan Mei. Cerita mengenai hubungan antara Tansen dan Mei, Romantisme, humor muncul, yang kemudian menjadi nyawa cerita ini. Gaya bahasa Dee yang menjadi cirri khas dari tulisannya membawa saya masuk pada alur cerita Madre. Selain madre sebagai cerita inti, Dee juga menyertakan beberapa sajak, lirik, dan cerita lainnya, tapi menurut saya bagian 1 Madre adalah yang paling berkesan dari semua bagian  kumpulan cerita “Madre”

Satu hal lagi yang selalu membuat saya tersenyum adalah, keahlian Dee untuk menceritakan tentang ikan lele, septic-tank, dan tempat sampah menjadi suatu rangkain romantis penuh Cinta. Madre sangat bagus untuk anda baca, sangat menginspirasi !

About these ads

2 thoughts on “Resensi “Madre”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s