Peran Keluarga Menyikapi “anak yang tidak naik kelas dan ranking terbawah”

Sore itu obrolan di timeline twitter saya sangat beragam, ada yang meributkan masalah artis yang terjerat kasus arkoba, euforia menjelang laga El Clasico, sharing tentang daily activity, hingga suatu obrolan mas @bukik tentang “masalah menyikapi anak yang tidak naik kelas dan ranking terbawah di sekolah”. Bagi saya topik yang diangkat sangat menarik, karena masalah-masalah seperti ini enggan untuk dibicarakan, baik oleh orang tua maupun khalayak ramai. Saya memang belum pernah mengalami “tidak naik kelas & ranking terbawah” secara langsung, namun adik saya pernah mengalami masa-masa berada di ranking terbawah.

“@bukik Temukan Kekuatannya, Bangkitkan Rasa Bangganya RT @putuprasasta Bagaimana cara memotivasi anak dengan ranking terbawah agar bisa bangkit ?”

Saat itu saya dan orang tua sebenarnya agak shock dengan hasil rapor adik, mengingat dalam belajar dia tak pernah “neko-neko”, dan selalu proaktif dalam kegiatan belajar di kelas. Adik yang mengetahui hasil rapornya seperti itu tentu saja kecewa. Kami sekeluargapun merasakan hal yang sama, namun semuanya telah terjadi dan yang bisa kami lakukan adalah melakukan “perbaikan”.

Saat itu kami sekeluarga ngobrol tentang apa yang harus dilakukan untuk bisa memotivasi adik. Saya, Bapak, dan Ibu menyadari, bahwa hasil yang adik capai dalam rapornya bukan semata-mata karena adik, tapi karena kurang optimalnya perhatian yang kami berikan kepada adik. Maklum saja, saja berada di Jakarta yang terpisah jarak dengan keluarga di Bali, sementara Ibu dan Bapak sibuk dengan pekerjaan masing-masing, sehingga perhatian akan jam belajar adik pun otomatis berkurang.

Saya melakukan pendekatan dengan adik melalui cerita pengalaman saya dahulu, memotivasinya untuk bisa bangkit lagi, mengajaknya berlibur, dan membelikan beberapa buku cerita. Tujuannya adalah agar dia mau menceritakan kendala personal yang dialaminya di sekolah sehingga kami bisa mencarikan solusinya. Ternyata kendala sesungguhnya adalah karena masalah “bahasa”. Sekolahnya yang berstatus sebagai sekolah Rintisan Bertaraf Internasional. Bahasa pengantar yang digunakan untuk mata pelajaran sains dan matematika adalah bahasa inggris. Namun dalam praktiknya lebih sering diajarkan dalam bahasa Indonesia, mungkin karena masalah sumber daya pengajar yang ada, atau kendala lain. Nah, ketika menjelang ujian, ternyata ujiannya full dalam bahasa Inggris, Nah inilah yang menjadi titik persoalan adik saya, Dia belum cukup paham dengan bahasa pengantar (bahasa inggris) yang digunakan saat ujian, alhasil hasil ujiannya tidak maksimal, kendatipun dia memahami konsep bahan ajar yang diujikan. Dia merasakan kesulitan dalam menjawab soal yang berbahasa inggris.

Kami sekeluarga mengambil langkah cepat dengan mengintensifkan waktu belajarnya terutama untuk bahasa Inggris. Saya pun memberikan buku cerita Billingual. Terinspirasi dari gerakan Indonesia Bercerita, bahwa anak akan lebih mudah menyerap value-value melalui cerita yang dibaca ataupun didengar. Lalu kenapa Billingual ? Menurut saya dengan membaca bahasa inggris dengan terjemahannya, akan membantu untuk menambah kosakatanya sehingga proses belajarnya semakin cepat. Yang kami lakukan berbuah manis, prestasi adik semakin meningkat dan menunjukan perkembangan.

Saya yakin banyak dari anak-anak pada umumnya mengalami hal yang serupa, namun ujung-ujungnya anak lah yang dijadikan sasaran tembaknya, tanpa mau mempertimbangkan hal-hal lain yang justru menjadi pemicu, seperti misalnya kondisi keluarga mereka. Kadang anak dengan label “ranking terbawah atau tidak naik kelas” langsung dicap “bodoh” oleh beberapa pihak, bahkan orang tuanya sendiri. Padahal belum tentu kan ? Saya meyakini setiap orang memiliki kelebihan dan kekuarangannya masing-masing. Jadi bukan masalah anda kurang jago dalam hal “A”, lalu menutup kemungkinan anda ahli dalam hal “B” kan.

Pengalaman lain yang pernah saya alami, ketika masa sekolah dulu, dua orang teman saya dinyatakan tinggal kelas karena secara akademis nilainya belum memenuhi standar untuk bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya. Dalam pergaulan sehari-hari mereka seolah dijauhi oleh kawan sebaya saya, dua orang sahabat karib saya ini menanggapinya dengan biasa saja. Memang pada akhirnya saya lulus lebih dahulu, namun siapa yang mengira kini dua orang sahabat karib saya itu tengah menyelesaikan pendidikan programer komputer di salah satu universitas terkenal di Yogyakarta.

Mereka banyak bercerita bahwa betapa besar peran orang tua mereka ditengah masa sulit itu, bagaimana orang tua mampu menjadi motivator terhebat untuk anaknya, dan guru disekolah yang memberikan perlakuan yang sama layaknya anak pada umumnya. Di usianya yang kini menginjak 23 tahun, teman saya itu telah belajar banyak, bahkan lebih dari yang saya dan kawan seangkatan kami pelajari, ya sebuah pelajaran tentang hidup dan memperjuangkan sebuah mimpi.

Life’s Good, Hidup selalu menyisakan ruang-ruang bagi pembelajar yang mau meluangkan waktunya untuk berbagi dan berkembang. Semoga bisa bermanfaat ya Dear Readers !

Salam

Prasasta Adi Putra / @putuprasasta

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s