Memaknai Galungan sebagai Pintu Perubahan Kualitas Diri

picture created by wayan dwitanaya

Mungkin sudah sering kita dengar bahwa hari raya Galungan merupakan representasi dari kemenangan dharma melawan adharma di dunia, namun pernahkah terbesit suatu pertanyaan di benak kita, dimana dharma itu? darimana adharma itu? lalu apakah memaknai Galungan cukup hanya memasang penjor, mengahturkan banten, atau malah hanya memanjakan diri dengan lezatnya aneka kuliner tradisional, seperti lawar, urutan, “be guling” dan lain sebaginya. Banyak sekali pertanyaan yang sepele yang bisa jadikan bahan renungan dalam menyambut hari suci ini. Ketika kecil dulu, saya beserta keluarga memiliki tradisi berkumpul dengan keluarga besar pada hari Galungan dan malam harinya diadakan simakrama bersama, dan saat itu para tetua banyak memberikan nasehat kepada kami yang muda. Secara tidak langsung saya mengambil suatu kesimpulan bahwa ini merupakan momen bagi kita untuk mengintrospeksi segala yang telah kita lakukan untuk menjadi manusia yang lebih baik di masa mendatang.

Namun saat ini persepsi saya sedikit berubah bahwa introspeksi itu adalah sebuah proses bukan sekadar hal yang bisa dilakukan dalam satu hari. Lalu dimana Dharma itu? Darimana adharma itu? Menurut saya sebagai orang yang awam, dharma dan adharma ibarat dua sisi mata uang, semuanya bermula dan berakhir di dalam diri kita. Kemenangan dharma adalah kemenangan kita atas diri sendiri. Tidak bisa dipungkiri bahwa kita tidak luput dari kesalahan, yang bisa kita lakukan adalah memaafkan dan berusaha menjadi sosok yang lebih baik.

Perubahan kualitas diri adalah bagaimana kita memandang diri kita bukan hanya sebagai sepotong daging yang dibungkus kulit, namun sebagai insan yang membutuhkan sesama untuk berbagi. Hal ini saya rasakan ketika momen-momen ini saya lewati ditempat yang berbeda, ketika keluarga kita jauh, merindukan sosok ibu, bapak, dan lainnya tentu hal yang lumrah dirasakan oleh setiap orang. Tapi inilah proses perubahan kualitas diri, ketika saya dan pembaca sekalian memandang hal ini hanya sebagai alur menuju suatu yang lebih baik.

Pernahkah terpikir oleh pembaca, mengapa kita dilahirkan berbeda bahkan diantara saudara kembar sekalipun? satu hal yang pasti adalah agar kita peduli dengan sesama, bahwa semua adalah saudara kita, “tat twam asi” aku dan kamu adalah sama. Oleh karena itu melalui perayaan hari raya Galungan ini, mari kita eratkan tali persaudaraan, tingkatkan solidaritas kita, Jadikan ini sebagai pintu perubahan kualitas diri menuju arah yang lebih baik, karena sesungguhnya kekurangan hanyalah milik kita manusia.

Selamat Menyambut Hari Raya Galungan Umat Sedharma, Shanti

Prasasta Adi Putra, 2010

4 thoughts on “Memaknai Galungan sebagai Pintu Perubahan Kualitas Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s