Senja di Atas Genteng


picture created by anita andriani danoewinoto

Senja itu damai sekali, diluar sepi. Tidak seperti biasanya yang hiruk pikuk dengan suara yang tidak jelas, tapi senja ini yang ada hanya suara saya dan jangkrik. Saat -saat ini mengingatkan saya ketika dikampung halaman dulu, alangkah senangnya duduk diatas genteng rumah, sambil membawa segelas es jeruk di malam hari, memang anak muda ada saja yang aneh-aneh. Biasanya kalau udah kaya begini, pikirannya sering ngorol ngidul, berkhayal entah kemana, angan-angan rasanya berlari bebas tak pasti. Satu yang selalu saya impikan adalah kelak nanti bisa duduk diatas genteng lagi dengan seorang wanita dengan sekantong es cendol, romantis sekali,haha…

Saat apa yang diceritakan ini terjadi adalah malam terakhir saya bersama keluarga di Bali, sebelum akhirnya kembali ke ibu kota. Memang agak sedikit berlebihan jika saya merindukan saat ini, kedengarannya sepele, tapi ketika anda melakukan hal yang sama pasti lain lagi jawabannya. Umur beranjak dewasa, sudah saatnya kita mulai belajar mengenal orang, tak terkecuali  wanita. Memang banyak yang datang dan pergi tapi entah apa yang merasuki pikiran saya saat itu, tiba-tiba teringat pada sosok wanita yang menurut saya menarik. Betapa konyolnya saya ternyata setelah diingat-ingat dia adalah adik kelas ketika jaman SMP dulu dan akhirnya tak pernah bersua sejak 4 tahun yang lalu, siapa yang tahu karena suatu situs jejaring sosial, akhirnya kami dipertemukan kembali namun dalam kondisi yang berbeda, kami telah remaja, dunia memang sempit.

Ya, sosok wanita yang simple, lembut, mandiri, dan keibuan. Meskipun usianya lebih muda, tapi tidak mengurangi kedewasaannya, dan saya kagum dengan itu. Ketika orang sering berbicara “cantik itu relatif “, saya justru berpendapat berbeda. “Semua wanita itu cantik” yang membedakan hanya mata kita yang memandang. Tapi memang cantik itu bukan hal yang utama. Ketika saling mau menerima apa adanya, itulah yang terpenting. Terlepas dari ini semua, saya bercermin pada sosok ibu saya. Bangga memiliki seorang ibu yang pekerja keras, bangga menjadi anaknya. Tak pernah ada kata lelah jika itu demi keluarga dan anaknya. Ibu adalah “Menteri Keuangan” di keluarga saya, beliau ahli me-manage uang. Dan ketika saya bilang bercita-cita ingin jadi menteri keuangan, beliau tertawa, karena tahu kebiasaan saya yang teledor dengan uang. Bukan hanya saya saja yang berpendapat demikian, bapak pun mengakuinya.

Ibu selalu bisa menjadi teman dan orang tua. Ketika beliau menjadi orang tua, bimbingannya dan nasehatnya selalu menyertai saya, bagaimana ketika mengingatkan saya untuk makan, padahal saya bukan anak kecil lagi. Namun ketika menjadi teman, beliau adalah sosok yang santai dan enak diajak ngobrol, bercerita tentang masa muda dahulu, perjuangannya melewati hidup ketika kecil sudah harus ditinggal nenek untuk selama-lamanya tak jarang membuat saya tersentuh.  Itulah hal-hal yang saya kagumi dari ibu, dan nanti ketika saatnya telah tiba, saya menginginkan sosok itu hadir dan menghiasi hidup saya, seperti kata pepatah “dari mata turun kehati” namun menurut saya lebih pas “bermula dari sahabat dan berujung dimana….”, sebuah impian dari duduk diatas genteng di suatu malam terakhir di Pulau Bali.

Prasasta Adi Putra, 01.44WIB, kamar 4, 20

2 thoughts on “Senja di Atas Genteng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s