“Bangkit itu Susah” Memaknai Kebangkitan Nasional

“Bangkit itu susah, susah melihat orang lain susah, senang melihat orang lain senang”

“Bangkit itu takut, takut untuk korupsi, takut untuk makan yang bukan haknya”

“Bangkit itu malu, malu karena jadi benalu, malu karena minta melulu”

“Bangkit itu marah, marah bila martabat bangsa dilecehkan”

“Bangkit itu mencuri, mencuri perhatian dunia dengan prestasi”

“Bangkit itu tidak ada, tidak ada kata menyerah, tidak ada kata putus asa”

“Bangkit itu aku, Untuk Indonesiaku “

Terinsirasi dari kata-kata yang diucapkan oleh Dedy Mizwar pada salah satu iklan di suatu stasiun televisi swasta beberapa tahun yang lalu, tiba-tiba mengetuk hati saya. Seratus dua puluh tahun sudah kita memaknai kebangkitan nasional, namun sudahkah kita benar-benar bangkit? atau justru semakin tenggelam dalam arus global dewasa ini. Jika melihat kembali sejarah kita, bahwa R. Soetomo dengan kelompok pelajar lainnya di sekolah STOVIA mencoba untuk mendirikan suatu perkumpulan yang diberi nama “Budi Utomo”, yang menjunjung perubahan dalam mengatasi kebodohan dan kemunduran bangsa kita di tengah kemajuan dunia, maka tergambar bagaimana semangat pemuda waktu itu  hingga terlahir “Sumpah Pemuda” sebagi wujud tekad menjadi bangsa yang lebih baik.

Sebagai suatu negara yang terkenal dengan kekayaan alamnya dan semboyan penduduknya yang gemah ripah loh jinawi, nampaknya kebangkitan ini memiliki masa pasang surut. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, potensi Indonesia tidak kalah baik dalam hal kuantitas SDM, faktor geografis, geologis, dan lainnya. Namun apa yang menyebabkan bangsa kita masih seperti ini?

Suatu analogi yang menarik, pada tahun 1945 Jepang dibom oleh sekutu di Hirosima dan Nagasaki, Jepang luluh lantak, semuanya hancur, banyak korban berjatuhan. Pada tahun yang sama pula bangsa kita merdeka, 17 Agustus 1945, Bung Karno bersama Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan, gegap gempita hal ini disambut oleh masyarakat Indonesia, pintu gerbang kebangkitan telah terbuka. Namun lihat bagaimana bangsa kita sekarang, lalu bagaimana Jepang sekarang? sepertinya keadaanya telah berbalik.

Ada hal yang menarik di balik kebangkitan Jepang ini pasca pengeboman sekutu, pertanyaan pertama yang ditanyakan kaisar jepang kepada bawahannya adalah, “Berapa jumlah guru yang tersisa?” Bisa pembaca bayangkan dalam keadaan segenting itu terlontar pertanyaan semacam ini. Sekilas terdengar sepele, namun intisari dibalik itu semua adalah pembangunan pendidikan bagi suatu bangsa adalah hal yang utama dibutuhkan untuk menjadi bangsa yang besar. Semua yang terjadi saat ini merupakan hasil dari proses pendidikan yang terus menerus, bagaimana pembaca, saya, dan wakil-wakil rakyat ini adalah hasil dari sebuah proses pendidikan, yang akhirnya menjadi suatu pola prilaku.

Berkaca pada potret sebuah bangsa seperti Jepang, tentu banyak hal yang bisa kita pelajari, semangat dan etos kerja mereka sungguh luar biasa. Kita adalah bangsa yang besar. Ketika sejenak kita pikirkan bangkit itu memang susah, tapi akan lebih susah lagi jika generasi dimasa yang akan datang hanya bisa mendengarkan sejarah kejayaan bangsa Indonesia tanpa bisa merasakan dan ikut berkecimpung di dalamnya.

Melalui momen kebangkitan nasional ini, saya mengajak kepada seluruh rekan-rekan, untuk mulai mengubah pola pikir kita, ketika kita terbiasa menuntut sesuatu karena tidak sesuai dengan keinginan kita, mengkritisi tanpa pernah memperbaiki, atau malah hanya bersembunyi di balik tirai yang apatis, tinggalkan itu! Apapun suku kita, apapun agama kita, kesatuaun NKRI adalah harga mutlak. Mengutip kata-kata Bung Karno bahwa suatu saat Indonesia akan menjadi “Mecusuar Dunia”, mengembalikan kejayaan Macan Asia. Karena intisari dari semua ini adalah bukan apa yang seharusnya negara berikan kepada kita, tapi “Apa yang sepatutnya kita berikan kepada negara”. Selamat Hari Kebangkitan Nasional.

Prasasta Adi Putra, 2010

2 thoughts on ““Bangkit itu Susah” Memaknai Kebangkitan Nasional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s