Mulat Sarira, “daun yang jatuh tak pernah membenci angin”

eda ngaden awak bisa,

depang anake ngadanin,

geginane buka nyampat,

anak sai tumbuh luhu,

ilang luhu buke katah,

yadin ririh, liu enu pelajahin”
pupuh ginada

Terkadang dalam hidup tidak semua sesuai dengan harapan kita, ada saat kita bisa tertawa karena senang, mengerutkan dahi meratapi kesedihan, atau bahkan menangis karena bahagia. Semua itu proses yang lumrah dilalui. Namun adakah yang pernah berfikir, mengapa kita harus tertawa ketika senang? sedih ketika gagal? mungkin ada atau malah sebaliknya. Sejenak setelah menghayati makna pupuh ginada dan membaca resensi sebuah buku karya Tere-Liye, saya sangat terinspirasi oleh sebuah kalimat yang juga menjadi judul buku itu, “daun yang jatuh tak pernah membenci angin“. Sejenak berkaca dari setiap kalimat dalam saya menyadari semua hal itu telah kita miliki.

Mulat sarira, sebuah istilah yang sering dikutip oleh masyarakat Bali; mulat sarira bukan sekedar konsep, dogma, atau doktrin agama tertentu, tapi sebuah ajakan bagi seluruh umat manusia, terlepas dari perbedaan latar belakang agama, status sosial, ras, ideologi politik dan ekonomi untuk “kembali ke akarnya dan menemukan dirimu.” Banyak orang lebih mudah melihat kesalahan orang lain dibandingkan melihat lebih dalam dirinya sendiri. Ketika hal ini kita sadari, banyak sekali rasanya kita melewatkan setiap detik yang berharga untuk sebuah introspeksi diri.

Mencari jati diri, dan mengenal diri sendiri merupakan pengembangan konsep mulat sarira. Mengutip dari Anand Khrisna, Jadi ada, sebenarnya, dua aspek bagi mulat sarira. Pertama ialah menemukan diri, dan kedua ialah apa yang hendak Anda lakukan terhadapnya. Sayangnya aspek tersebut acapkali terlupakan. Kita memahami istilah tersebut, tapi kita tak melakoninya. Ini seperti memegang resep medis di rumah dari seorang dokter ahli, tapi kita tak meminum obatnya. Ini menyebabkan kondisi yang memprihatinkan dalam masyarakat kita.

Kenali dirimu sebelum engkau mengenali orang lain, karena ketika kita mengenali diri kita, kita akan senantiasa untuk melihat kelebihan dan kekurangan, yang justru merupakan langkah awak bagi kita untuk berbenah. Sama seperti filosofi daun yang gugur karena angin, bukan karena angin yang sepoi-sepoi ataupun kencang, tetapi karena daun hanyalah daun, yang ketika waktunya nanti akan gugur dan kembali pada ibu petiwi.

Prasasta2010

3 thoughts on “Mulat Sarira, “daun yang jatuh tak pernah membenci angin”

  1. Pingback: Perbicangan antara daun kiara kering yang jatuh tersapu angin dengan daun lain yang berayun di ranting. | Chandra Buana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s