Pamit Tepat Waktu

6 Agustus 2010 Cerita ini sangat inspiratif bagi saya pribadi, saya menyadari hal ini ketika saya sendiri tanpa ditemani seorangpun. Saat hujan turun dengan derasnya mengguyur Jakarta di sore ini, saya akan berbagi dengan anda semua. Cerita ini disarikan dari Buku “Chiken Soup for the Soul”. Selamat membaca🙂

picture from flickr.com

Dia adalah pemimpin tidak resmi kami, juru bicara kami. Jika Billy mengatakan sesuatu hal adalah begini, maka begitulah halnya! Ketika itu kami adalah segelintir orang yang berkumpul setiap hari memperhatikan catatan bursa saham dan menunggu kata-kata bijak harian dari Billy. Dengan logat asli London-nya serta kedipan matanya yang menenangkan, ia seakan-akan membuat segalanya beres, atau betapa suramnya keadaan dalam kehidupan sehari-hari. Tahu-tahu pada suatu hari segala-galanya menjadi kacau. Billy sahabat kami yang berumur delapan puluh tahun, pemimpin kami, terserang kanker!

Sejak itu perkembangan investasinya bukan hal penting untuk diikuti. Urusan yang terpenting adalah Billy! Kesehatannya mundur dengan sangat cepat. Satu-satunya keluarga yang masih hidup adalah seorang kakak perempuan, di Inggris. Karenanya, kamilah yang menjadi keluarganya. Beberapa orang diantara kami bergilir menjaganya di rumah sakit. Gary, sahabat dan konsultan keuangan Billy, hampir selalu ada di sana. Kami tidak ingin membiarkan Billy berbaring sendiri.

Pada suatu malam kami menyadari bahwa ajalnya sudah dekat. Aku menawarkan diri untuk menemani Gary menjaga Billy, tetapi Gary menyuruhku pulang dulu lalu menggantikannya menjaga keesokan harinya.

Sekitar pukul lima pagi aku dan istriku terbangun mendengar pintu depan diketuk keras-keras. Aku bangun untuk melihat siapa yang datang, tetapi ternyata tidak ada siapa-siapa diluar. Pukul sembilan Gary menelpon untuk memberitahuku bahwa Billy sudah meninggal dunia. “Pukul berapa?” tanyaku.

“Pukul lima pagi,” jawab Gary. Aku Terpana. Hanya ada satu penjelasan bagi kami tentang siapa yang mengetuk pintu rumah kami pukul lima. Itu adalah Billy yang pamit untuk terakhir kalinya.

Mungkin bagi yang pertama membaca cerita ini biasa saja, namun bagi saya cerita ini luar biasa. Saat membaca cerita ini saya merefleksikannya kepada diri saya sendiri, bukan kepada sosok sahabat seperti Billy, namun kepada orang tua dan orang-orang yang saya cintai. Satu pertanyaan saya, Pernahkah anda mengatakan ” Saya Menyayangimu Ibu atau Saya menyayangimu Bapak”. Sangat sederhana bukan, bahkan lebih mudah daripada anda menyelesaikan ujian anda disekolah. Namun belum banyak yang berani mengatakannya, mungkin banyak yang berpikir itu terlalu sederhana untuk dikatakan sehingga mereka pikir itu hal biasa yang sudah semua orang tahu. Saya pun berpikir demikian pada awalnya.

Namun suatu kejadian mengubah semua pandangan saya, saat saya mencoba mengatakan hal ini kepada kedua orang tua saya, ibu saya menangis, dan ayah saya merangkul saya. Entah apa yang mereka rasakan. Sembilan belas tahun sudah saya dibesarkan, namun baru saat itulah ayah saya merangkul saya dengan hangat. Saya menyadari masih banyak yang belum dilakukan untuk mereka, mereka adalah orang tua saya, mereka adalah teman dan sahabat saya. Cobalah anda katakan hal itu kepada orang terdekat anda, karena belum tentu waktu mengijinkan anda melakukannya. Lakukan sekarang !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s