Sepak Bola Indonesia, “Layu di Tanah yang Subur”

Timnas Indonesia

Sepak bola , saat ini bisa dikatakan merupakan salah satu olahraga terpopuler di dunia. Baru saja diakhiri oleh momen World Cup South Africa 2010, sepak bola kini kembali menjamur diseluruh belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Ketika tahun 1991, tim nasional menjuarai Sea Games di Filiphina, alangkah bangganya bangsa kita, namun sekarang? Mungkin tidak lagi. Sejak saat itu pretasi timnas Indonesia mengalami pasang surut yang tidak menentu. Diajang Sea Games pada tahun 1997, timnas berhasil  mendapatkan perak, dan perungu pada Sea Games tahun 1999, dan saat ini posisi Indonesia berada dalam ranking 136 dunia, fantastis! Banyak sekali problema yang dihadapi persepakbolaan di Indonesia, mulai dari masalah anggaran, sarana dan prasarana, delegasi wewenang KONI, Komite Olimpiade Indonesia (KOI), dan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).

PSSI, KONI, KOI

Impian Timnas Indonesia masuk ke Piala Dunia pada 2020 nanti sepertinya tidak semudah membalikan telapak tangan. Ditengah banyaknya kritik terhadap persepakbolaan Indonesia, peran  KONI, Komite Olimpiade Indonesia (KOI), dan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) tak luput dari perhatian publik. Ditengah gencarnya masyarakat yang mulai mempertanyakan kualitas timnas Indonesia, saat ini malah terjadi silang pendapat antara PSSI dan KOI terkait dengan masalah pengelolaan pelatihan usia dini. PSSI menilai KOI sebagai organisasi besar yang tak tertib organisasi. Pernyataan itu disampaikan Sekretaris Jenderal PSSI Nugraha Besoes berkaitan dengan pemberitaan di media massa, yang menyebutkan PSSI lalai dalam mengelola pembinaan usia dini. (Bataviase.co.id 23 Maret 2010)

Sudah selayaknya sinergi KONI/KOI dan PSSI terus dibangun, dengan mengenyampingkan kepentingan-kepentingan golongan. Perlu digali batas yang jelas antara kebijakan olahraga dan komitmen politik olahraga. Apabila perlu baik PSSI ataupun KONI/KOI harus mengoptimalkan kerja sama dengan pemerintah daerah dalam pembinaan dan persiapan sarana-prasaran fisik yang diperlukan.

Kongres Sepak Bola Nasional (KSN)

Kongres sepak bola nasional baru saja diadakan di Malang pada tanggal 30-31 Maret 2010 lalu, namun hasilnya sejauh ini menimbulkan banyak pro dan kontra, terutama dikalangan wakil supporter. Menurut mereka rekomendasi KSN belum mengikutsertakan perubahan PSSI  secara fundamental (suara bola, 31 Maret 2010) dan belum mampu menyelesaikan masalah mafia perwasitan yang terjadi di Indonesia. Menyikapi hal ini, harus ada tindak lanjut baik dari pihak PSSI, KONI/KOI, maupun dari wakil-wakil supporter dalam mengambil keputusan revisi ataukah perumusan kembali apa-apa saja yang perlu untuk dibenahi dalam sepak bola Indonesia.

Naturalisasi Pemain

Sempat terdengar kabar, bahwa pemerintah akan melakukan naturalisasi beberapa pemain yang kini bermain di luar negeri. Wacana ini mendapat dukungan positif dari Menpora. Hal ini dilakukan untuk menambah kapasitas timnas, dalam menyikapi menurunnya prestasi Indonesia khususnya sepak bola. Sekilas cara ini terdengar seperti angin segar bagi persepakbolaan Indonesia. Namun jika dilihat, naturalisasi bukanlah satu-satunya solusi untuk meningkatkan prestasi timnas Indonesia. Apa gunanya naturalisasi, jika bibit unggul ini diolah dengan sistem lama yang menyebabkan krisis prestasi Indonesia seperti sekarang ini? Kunci utama dari penyelesaian krisis prestasi timnas adalah “manajemen pembinaan dan koordinasi”. Manajemen pembinaan saat ini belum mampu menjaring potensi-potensi terpendam yang ada di daerah. Oleh karena itulah dibutuhkan koordinasi fungsi dan wewenang dengan masing-masing pemerintah daerah. Bisa kita bayangkan jika mulai usia dini, pembinaan telah dilakukan dengan optimal, tentu untuk mencari pemain andalan tidaklah sulit.

Sinergi Olahraga dan Pendidikan

Dinegara-negara seperti China, Jerman, Jepang, Singapura, komitmen pemerintah begitu tinggi dalam memajukan olahraga. Sarana olahraga dibangun dimana-mana. Singapura yang notabene memiliki luas wilayah yang kecil, menyediakan lahan seluas 7 hektar untuk fasilitas olahraga, dan pembangunannya dilakukan bedekatan dengan pusat-pusat pendidikan (KONI, 2010). Dari hal tersebut dapat dicermati bahwa pembangunan olahraga tidak bisa berdiri sendiri. Untuk menciptakan manajemen pembinaan olahraga sejak dini, sinergi dengan olahraga dengan pendidikan dibutuhkan. Mengapa? Lingkungan pendidikan merupakan tempat berinteraksi dan sosialisasi yang sangat baik untuk pembangunan mental dan semangat olahraga. Belakangan ini terjadi ketimpangan antara pembangunan fisik dan mental dalam olahraga. Denifisi pembangunan dalam olahraga saat ini tidak cukup dengan sarana fisik saja, bisa anda bayangkan, atlet Indonesia mengatasnamakan nasionalisme dalam mendukung negaranya diajang perhelatan dunia.

SEA GAMES 2011

Sea Games 2011 rencananya akan dilakukan di empat provinsi di Indonesia yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sumatera Selatan. Ajang ini merupakan pembuktian posisi Indonesia dimata dunia. Target “Juara Umum” sepertinya tidak muluk-muluk disampaikan Ketua KONI/KOI, Rita Subowo ( Politikindonesia.com). Dengan kondisi seperti ini sepertinya wajar jika kita sedikit pesimis dengan target tersebut, tapi bukankah selalu ada usaha dalam setiap harapan? Begitu juga untuk sepak bola kita. Semasih kita mau maju, kita pasti bisa!

Salam Olahraga!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s