Mengagumi SBY, “Harus Bisa”

Siapa yang tidak kenal sosok SBY? saya rasa kita semua tahu. Bagaimana tidak, selain karena jabatan beliau sebagai presiden RI, sosok SBY bagi saya pribadi adalah sosok tauladan dalam banyak hal, ya intinya saya mengagumi beliau. Saking kagumnya saya rela hunting sebuah buku yang berkisah tentang kepemimpinan ala SBY selama menjadi presiden RI. Judul bukunya adalah “Harus Bisa !”, yang disarikan dari catatan harian Dr. Dino Patti Djalal. Tapi  buku ini ternyata dibagikan gratis kepada para delegasi Indonesia yang melakukan lawatan ke Nanyang University pada 2009 lalu, dan kebetulan ayah saya ikut didalamnya.

Buku ini cukup unik, karena berdasar pada pengalaman langsung Pak Dino (Dr. Dino Patti Djalal, red.) selama menjalankan tugasnya bersama SBY. Kesan pertama saya sebelum membaca buku ini cukup negatif. Bayangan saya, paling buku ini hanya sebagai ajang politik pencitraan SBY saja. Beruntung stigma negatif itu masih terlalu lemah untuk menghalangi saya membaca buku ini.

Setelah membaca halaman demi halaman, stigma negatif saya mulai berkurang. Jika melihat sisi humanisnya, Ya.., buku ini merupakan reposisi dari persepsi gaya kepemimpinan ala SBY. Bisa kita bayangkan para tokoh politik begitu mudahnya mengkritik kebijakan- kebijakan presiden, namun mungkin kita melewatkan sesuatu, bagaimana kedudukan beliau pada saat yang sama. Sekali lagi makin mengingatkan saya, SBY adalah manusia biasa yang memiliki kekurangan dan kelebihan.

Untuk mengobati rasa penasaran anda, berikut akan saya sarikan satu cuplikan tulisan Pak Dino dalam buku “Harus Bisa!” yang berjudul “SBY Terpukau Mahatma Gandhi”

Dalam kunjungan kenegaraannya ke India tahun 2006. Presiden SBY mengunjungi makam Mahatma Gandhi, pejuang kemerdekaan India yang dijuluki “malaikat abad ke-20” karena kebersihan hatinya yang luar biasa.

Gandhi memimpin rakyat India melepaskan diri dari penjajahan Inggris tidak dengan darah dan kekuatan militer, namun dengan resistensi anti kekerasan (non-cooperation, non violent civil disobedience). Di tahun 60-an, strategi Satya Graha Mahatma Gandhi ini diterapkan Dr. Martin Luther King Jr. dalam memimpin perjuangan hak-hak sipil di AS.

India mencapai kemerdekaannya tahun 1947, namun Mahatma Gandhi meninggal dengan tragis tahun 1947, dibunuh oleh seorang Hindu fanatik. Sejak itu, politik Mahatma Gandhi yang sepenuhnya mengandalkan kasih dan kekuatan moral telah banyak dipelajari oleh peminat ilmu kepemimpinan.

Dalam protokoler India, kunjungan ke makam Mahatma Gandhi merupakan bagian rutin dalam program kunjungan tamu negara. Setibanya di makam, SBY melewati dinding yang memuat kata-kata mutiara yang berjudul seven social sins dari Mahatma Gandhi yang diukir diatas batu berwarna terang. Presiden SBY secara kebetulan menoleh kearah tulisan tersebut, namun begitu bola mata beliau menangkap kata-kata yang indah itu, beliau langsung berhenti.

Presiden SBY membacanya cukup lama dan tertegun sambil merenung cukup lama. SBY kemudian meminta saya untuk mencatat mutiara di dinding itu. Kata-kata Mahatma Gandhi itu menurut saya adalah petuah yang indah dan dalam, yang hanya bisa ditelurkan dari hati seorang pemimpin besar yang berjiwa jernih. Sampai sekarang saya masih menyimpan catatan tulisan Mahatma Gandhi itu.

Seven Social Sins”.

“Politics without principle. Wealth without work. Pleasure without conscience. Knowledge without character. Commerce without morality. Science without humanity. Worship without sacrifice”

 

4 thoughts on “Mengagumi SBY, “Harus Bisa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s