Menjaga Taksu

Berbicara mengenai sejarah bangsa kita, Bung Karno adalah satu pelakunya. Belajar mengenai kesabaran dan arti sebuah pengorbanan, sosok Mahatma Gandhi mungkin favorit banyak orang. Banyak nama besar, banyak juga cerita-cerita menarik didalamnya. Dalam kehidupan masyarakat Bali, berbicara mengenai tokoh-tokoh besar tentu tidak asing lagi dengan istilah “taksu”. Banyak yang mencoba mendefinisikan taksu dalam konsepnya masing-masing. Ketika seorang seniman tari menampilkan tarian yang memukau, sering dikatakan bahwa sang penari “metaksu” (mempunyai taksu). Saat seorang pemimpin berbicara didepan public, apa yang dikatakannya mampu membius sang pendengar, sosoknya penuh karisma dan wibawa, dia juga sering dikatakan “metaksu”. Secara umum taksu dapat diartikan sebagai new spirit of excellence dalam menjalani kehidupan.

Beberapa minggu yang lalu saya disadarkan oleh suatu kejadian yang menurut saya menarik. Saat itu Rabu, disebuah ruangan di kampus, saya mendapat kuliah perdana dari seorang dosen. Logat Jawa beliau yang kental dan sosok beliau yang low profile, membuat kesan yang menarik bagi saya pribadi. Beliau mulai mengajar sejak 1971, meskipun beliau telah lanjut usia, namun semangat  masih terpancar jelas diraut wajah beliau. Sesi perkenalan dimulai, beliau banyak bercerita seputar kehidupan dan karir beliau. Setelah sekian lama beliau bercerita mengenai instansi tempat beliau bekerja, tiba-tiba beliau bertanya, “Kalian tahu kenapa saya mau mengajar kalian?” Tidak satupun dari kami yang menjawab. Dalam benak saya, itu pertanyaan yang biasa dan lumrah, saya hanya tersenyum. “Untuk mengisi kemerdekaan” jawab beliau singkat.

Sontak kelas penuh oleh tawa. Jawaban yang jarang ditemui, apalagi untuk masa sekarang ini. Mungkin kebanyakan diantara kita baru ingat “kemerdekaan” ketika menjelang tanggal 17 Agustus saja, termasuk saya juga. Saat itu saya hanya tertawa mendengar jawaban beliau, “beliau humoris juga” dalam benak saya. Seminggu berselang setelah sesi kuliah tersebut, saya iseng membuka sebuah buku karangan beliau, dihalaman kedua tertulis kata-kata ini, “Bila seseorang telah meninggal dunia, terputusnyalah segala amal kecuali dari hal yang kekal : Ilmu yang bermanfaat, dipersembahkan untuk kemajuan dan kesejahteraan.”

Setelah kejadian ini saya belajar suatu hal, bagaimana kita terus menjaga apa yang kita miliki (taksu) dengan segala keterbatasan kita, meskipun itu adalah suatu hal yang kecil, namun tidak menyurutkan semangat kita untuk saling berbagi. Beliau telah memberi pesan berharga meskipun baru saya sadari. Beliau bukan tokoh besar seperti Bung Karno ataupun Mahatma Gandhi, namun beliau telah mampu menjaga taksu dalam kehidupannya dan mampu menginspirasi sesamanya. “Terimakasih Pak

prs.2010

3 thoughts on “Menjaga Taksu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s