Mencari Kartini Kembali

“A woman is like a tea bag – you never know how strong she is until she gets in hot water”

Saya sangat terinspirasi oleh sebuah tayangan Opah Show pada bulan November lalu, dikisahkan bagaimana perjuangan seorang wanita disebuah negara di Afrika dalam meneruskan jenjang pendidikannya ditengah konflik keluarga yang berkepanjangan, kemudian bagaimana ketegaran seorang ibu di India untuk menghidupi keluarganya ketika sang suami terkena PHK, hingga akhirnya mampu menyediakan lapangan pekerjaan untuk ratusan pekerja wanita di India, dalam benak saya saat itu, sebegitu hebatkah sosok wanita saat ini?

Nicholas Kristof, dalam bukunya Half The Sky, mengatakan bahwa “perubahan pada sebuah negara yang kuat diawali dukungan dan pemberdayaan wanitanya”. Dilihat sekilas, betapa besar pengaruh wanita dalam berbagai hal, tanpa mengesampingkan sosok laki-laki, namun itulah yang terjadi.

Berbicara mengenai emansipasi, tentu tidak bisa lepas dari karakter kuat R.A. Kartini, pelopor emansipasi. Kartini menuntut pendidikan bagi kaum wanita, berarti orientasinya lebih ditekankan pada tingkatan kecerdasan secara individual. Sasaran yang lebih jauh ingin dicapai adalah mengangkat martabat kaumnya, sehingga sejajar dengan martabat kaum pria. Dengan demikian maka gerakan emansipasi yang dilakukan oleh kaum wanita Indonesia yang diartikan sebagai gerakan pembebasan kaum wanita dari ketergantungan pada orang lain, terutama pada kaum laki-laki.

Tujuan gerakan itu agar wanita dapat hidup mandiri, menggunakan hak-haknya seperti halnya yang berlaku pada kaum laki-laki, sehingga mereka tidak lagi menyandang sebutan “warga negara kelas dua” . Hal ini telah menunjukan hasil yang positif, peran wanita semakin berkembang dalam berbagai bidang, seperti bidang politik, kesehatan, ekonomi, pendidikan, bahkan militer sekalipun. Gaung emansipasi bukan hanya menjadi pelecut semangat perubahan tetapi menjadi nuansa baru disegala bidang kehidupan.

Pemahaman Kartini dengan emansipasinya telah banyak diaktualisasikan secara konsisten, namun pernahkah anda berpikir tentang sosok wanita terdekat disekitar anda? Sekarang berpikirlah sederhana, lihat dari hal yang terdekat, amati dari hal-hal yang kita anggap biasa, lihatlah sosok ibu anda. Kenapa ibu? Sosok ibu melambangkan kasih yang universal dalam setiap waktu kehidupan. Bisa saja ibu merupakan tempat terakhir kita, saat sahabat ataupun teman tidak cukup berarti untuk suatu masalah tertentu, atau mungkin ibu kita menjelma menjadi sosok sahabat karib dengan segudang solusinya, banyak alasan untuk itu. Tetapi satu yang pasti, sejauh kita mencari, proses perubahan itu terjadi pada kita dan Kartini itu selalu ada untuk memberikan doa dan semangat untuk kita, karena bisa jadi sosok ibu kita merupakan Kartini masa kini yang kita cari. (Prs)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s