Gugon Tuwon, “Sebuah budaya atau tradisi”

“Kamis Pon Kuningan, seperti layaknya anak-anak bali lainnya, dalam kesederhanaan saya merayakan otonan saya bersama keluarga. Otonan adalah upacara peringatan hari kelahiran menurut penanggalan Bali. Seperti biasa sesajen telah digelar sebagai wujud syukur kepada tuhan dan leluhur. Ada yang menarik saat nenek mengenakan gelang benang ditangan saya, beliau berkata, “gus,..gus…, megelang benang, mewat-kawat, metulang besi, ape je alih gus pang mepikolih setelah upacara selesai, saya bertanya kepada beliau tentang hal tersebut, mengapa demikian? Apa artinya? dan sebagainya. Tapi jawaban beliau singkat,…

“Nak Mule Keto”


GUGON TUWON dan NAK MULA KETO, Istilah yang lumrah kita dengar ketika melakukan percakapan sehari-hari di masyarakat Bali. Apa sebenarnya Gugon Tuwon? Gugon tuwon adalah dua kata yang dirangkai menjadi sebuah kata yang sulit dipahami maknanya, kadang ada yang memberikan arti berasal dari kata “gugu” dan “tuhu”, dalam bahasa Bali gugu=dapat dipercaya dan tuhu=tahu, pandai, bijaksana. Makna kata itu kira-kira “percaya pada kebenaran (yang tahu)”.

Banyak pro dan kontra mengenai gugon tuwon, ada yang berpendapat bahwa gugon tuwon dapat mengurangi fleksibilitas kita sebagau umat hindu, ada juga mengatakan bahwa gugon tuwon merupakan penyebab menurunnya kualitas pengetahuan generasi penerus. Sebenarnya bagaimana kita harus menyikapi gugon tuwon ini?

Pemaknaan Gugon Tuwon dewasa ini cenderung terkait dengan beberapa aspek yakni, sraddha, tanggung jawab, dan  ajeg Bali. Pada aspek sraddha jelas sekali bahwa, di era multikultur sekarang ini dituntut generasi muda yang tebal keyakinannya. Tidak ada yang menyalahkan gugon tuwon, dan tidak ada yang meragukan lagi bagaimana keyakinan umat sedharma ketika melakukan suatu upacara ritual meskipun hanya didasarkan atas tradisi turun temurun, tanpa mengetahui filosofisnya.

Gugon Tuwon tidak saja bermakna “yakin”, akan tetapi juga melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Hal ini terlihat dalam konsep “ngayah” yang mengakar dalam kehidupan umat hindu. Tanggung jawab untuk melestarikan kawitan kita (wit adalah asal), adalah suatu kewajiban bagi kita para sentana (sentana adalah keturunan atau penerus).

Bercermin dari hal itu, ada makna penting yang bisa kita petik dari gugon tuwon ini, prinsip Gugon Tuwon sesungguhnya adalah “prinsip untuk percaya terhadap yang patut dipercaya”, mempercayai kepada yang tuhu. Gugon Tuwon peluangnya besar sekali pada era sekarang ini, dapat dijadikan momen untuk mewujudkan kepercayaan/keyakinan dan keteguhan pada ajaran agama (Sraddha), memiliki rasa tanggung jawab baik personal maupun interpersonal, tekun menuntut ilmu pengetahuan karena pada era sekarang ini mustahil tanpa ilmu pengetahuan, serta melakukan perubahan untuk menuju pembebasan pada aspek kemiskinan, kurangnya pendidikan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu kita sebagai generasi penerus harus menyeimbangkan pelaksanaan tri kerangka dasar, kita perlu meningkatkan tatwa kita, tidak sekedar melaksanakan ritual (upacara) dan atau berbuat sesuai tradisi atau budaya (susila).

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s