Sajak Pagi

Gabah kering mendayung kenangan

sebuah memori cerita lusuh,

Ketika hijaunya padi tak terbelenggu langkanya urea

Saat burung masih bebas berkicau,

Beriak air memecah pagi, galangan awan membentuk parasnya

Ya disinilah aku belajar mencinta, berdoa, dan tersenyum

mengatakan “aku” dengan bangga

Sebuah pagi penuh harapan, yang kini terbang membiru

berlari menembus batas, menghilang ditelan asa

Hingga mata menutup, dan ia berbisik, “aku disampingmu”

*disuatu pagi dipojok Pulau Dewata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s