Mereka di Mata Saya

Gerimis hujan mulai turun diluar sana. Alunan music The Script  masih menemani sore saya. Damai sekali rasanya suara hujan deras ditengah ibu kota Jakarta kali ini. Satu-satunya hal yang bisa saya lakukan adalah duduk manis sambil membaca beberapa majalah yang baru beberapa hari saya beli dari sebuah toko buku. Tiba-tiba handphone saya bergetar, adik saya, Malika, ternyata menelpon. Salah satu sosok kebanggaan saya dirumah selain kedua orang tua saya. Kami terpaut jarak 10 tahun, cukup jauh memang, namun tidak menghalangi kami untuk saling berbagi cerita. Jujur saya banyak sekali belajar dari adik, ia adalah sosok yang anak yang memiliki idealism dan mandiri, meskipun baru berumur 10 tahun.

Seperti biasa suara nyaringnya membuka pembicaraan kami. Sama seperti ibu ketika menelpon, hal pertama yang ia tanyakan selalu, “sudah maem belom?” Yaa, untuk anak seumurannya pertanyaan seperti itu rasanya biasa saja. Tapi bagi saya hal itu lebih dari cukup, Malika persis seperti ibu, telaten dan perhatian. Perbicangan kami terus berlanjut, ia banyak bercerita mengenai sekolahnya, dan saya hanya menjadi pendengar yang baik. dengan sesekali memberikan komentar, dan tertawa karena kepolosan dan keluguannya.

Kemudian ia menyerahkan telpon kepada ibu. Suara ibu lesu sekali, memang ibu sejak dua hari yang lalu menderita sakit kepala. Ibu bercerita tentang perjalanannya bersama bapak ke Singaraja untuk melakukan chek up dan terapi. Jujur saya baru tahu kalau beliau mengalami gangguan pada jantungnya, jantung beliau lemah, akibatnya suplai oksigen pun berkurang ke otak. Ditambah lagi ternyata setelah hasil chek up ternyata bapak menderita gejala rakhitis. Saya hanya terdiam, dan bersandar lebih dalam pada kursi. Pikiran saya berlari tak tentu.

Berbicara mengenai bapak dan ibu, mereka berdua adalah sosok pekerja keras. Ibu adalah menteri keuangan dalam keluarga kami. Bapak adalah sosok yang hangat, ulet, dan motivator dalam keluarga. Saat ini memang masa yang sulit bagi beliau, tuntutan profesi yang mereka jalani memaksa mereka untuk bekerja extra, sehingga kadang-kadang waktu makan dan istirahat pun terganggu.

Tak banyak yang bisa saya lakukan, selain selalu mendoakan mereka supaya lekas sembuh. Jika saja saya bisa berada disamping beliau saat ini, ya tapi sudahlah, saya tahu beliau adalah sosok yang kuat, seperti yang mereka selalu ajarkan kepada saya. Dalam benak saya berjanji, Kapanpun, dan dimanapun saya akan membuat mereka bangga. Lekas Sembuh Pak, Bu. We Love you

2 thoughts on “Mereka di Mata Saya

  1. tulisan mencerminkan bacaan…. kalau diibaratkan majalah, anda ini menurut saya “Readers Digest”… padat berisi, bahasanya mengalir, dan selalu meradiasikan ion2 positif ke sekitar…. semoga keluarga semua dalam lindunganNya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s