Melihat Bali dan Dirimu Sendiri

Sampai sekarang saya juga belum tahu, kenapa saya lebih nyaman menulis ketika hujan, dan memikirkan ide-ide tulisan itu di toilet, semuanya mengalir begitu saja. Pada kesempatan kali ini saya akan bercerita mengenai obrolan saya dengan seorang kawan. Kini kami sama-sama merantau dan jauh dari orang tua tentunya. Saat itu kami sedang mempersiapkan latihan untuk performance kolaborasi music modern dan music tradisional Bali, obrolan dimulai ketika saya nyeletuk, “Yen jumah, sing be bakat baan nyemak gae kene, mekejang ngekoh” (kalau dirumah (di Bali), rasanya malas melakukan hal-hal seperti ini (pekerjaan seni & budaya))

Ya, jujur saja, sejak merantau ke luar Bali, saya merasa lebih aktif dalam kegiatan-kegiatan kreasi seni dan budaya. Sangat ironis memang terlahir dalam lingkungan yang sarat dengan seni dan budaya, tapi cenderung pasif dan mencari pembenaran karena banyak orang yang lebih mampu melakukan berbagai pekerjaan seni dan budaya tersebut. Terkadang bahkan mendengar kata “BALI” saja adalah hal yang biasa saja ketika saya masih tinggal bersama orang tua disana, tidak ada yang special. Perjalanan ini dimulai kurang lebih dua setengah tahun yang lalu, ketika akhirnya jenjang pendidikanlah yang mengharuskan saya meninggalkan Bali, dan cerita ini pun baru dimulai.

Ketika berada diluar Bali, jangankan saudara kandung, orang lain pun serasa mudah menjadi saudara. Satu pelajaran yang saya petik dari perjalanan saya, kita akan menyadari pentingnya kebersamaan ketika kita jauh. Terlepas dari itu, kami melanjutkan obrolan kami, teman saya hanya mengangguk mendengar celetukan saya tadi. Kemudian ia berkata, “Seorang teman pun mengatakan hal yang serupa pada saya, Anda baru bisa melihat Bali seutuhnya, ketika anda keluar dari Bali, dan menyadari setiap detilnya” Sederhana bukan?

Terlepas dari setuju atau tidak, bagi saya biasa saja, tapi ketika toilet kembali memanjakan ide-ide saya, hal itu sangat unik. Resapi kembali kata-kata ini, Anda baru bisa melihat Bali seutuhnya, ketika anda keluar dari Bali” Ada perasaan yang berbeda ketika saya mendengar kata “BALI” kini  dan dulu ketika masih di Bali. Mungkin dulu terasa biasa saja, namun sekarang ada semacam kebanggaan. Terlepas dari itu semua, saya mencoba mengaitkan bagaimana kita mempersepsikan kata “BALI” dengan diri kita sendiri. Bagaimana kita bisa melihat diri kita seutuhnya dari persepsi diluar diri kita, bukan menggunakan pandangan orang lain, tetapi melalui mata kita melihat diri sendiri sebagai orang lain. Entah nanti bagaimana kita bersikap, berpikir, atau berkata, yang jelas hal ini akan membawa sebuah penyetaraan perlakuan, bahwa pada intinya kita adalah sama. Perlakukan orang lain seperti kita memperlakukan diri kita sendiri, sayangi orang lain seperti kita menyayangi diri sendiri, karena pada hakikatnya, Aku adalah kamu, dan Kamu adalah aku. “Tat Twam Asi”. Sebuah pelajaran yang berharga disuatu sore dengan seorang sahabat ditengah “orta kangin kauh” (obrolan santai).

Salam

5 thoughts on “Melihat Bali dan Dirimu Sendiri

  1. hehhee.. ini putu prasasta yang di fb yax? he… ternyata blogger juga yax, he…
    iya juga ya, justru kalo diem di bali malah ga terlalu ngeh sama yang begituan, eh malah ngehnya sama budaya japan, he2! oya, follow nd komen balik yax, sankyuu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s