Tuhan Menegur “Saya”

“Kami telah berbicara tanpa bahasa “

Sinar matahari senja dipojok lorong sebuah bangunan tua. Tampak dua orang suster sedang hilir mudik membawa kantong infuse dan mengantarkannya kepada pasien yang memerlukan. Entah kapan, tapi rasanya saya pernah ke tempat ini. Dindingnya putih kusam, seolah menggambarkan bagaimana perjuangan orang-orang disana untuk hidup, atau bahkan menuju kematian. Tempat yang penuh derita, penuh orang sakit, atau apalah namanya.

Lorong demi lorong saya lewati, namun mata saya tertuju pada sesosok  gadis remaja, sepertinya kami sebaya, wajahnya pucat pasi, selang infuse menempel ditangan kanannya, dan terbaring lemas. Saya berhenti dan duduk di kursi lorong gedung itu tepat bersebrangan dengan pintu kamar gadis itu, merenggangkan otot-otot leher yang kaku setelah berperang dengan angka-angka dalam kertas laknat itu. Pandangannya jauh menerawang entah kemana, dibibirnya tebalnya hanya mengunyah suapan-suapan bubur dari sang ibu, entah apa yang saya tangkap dari kejauhan, tapi yang jelas Dia cantik sekali.

Dua orang bergaya preman melintas didepan saya, tato skinhead dragon menempel erat di lengan kirinya, dan yang satunya hanya guratan kata, “BLACK CORPS” saya tak mengerti artinya, tapi yang jelas tergambar urat-urat sangar diatasnya. Ah, saya tak peduli itu. Perhatian saya kembali tertuju pada gadis cantik itu, jika ada yang tidak percaya “cinta pandangan pertama”, mungkin saya akan memberitahu beginilah rasanya. Saya tak tahu kenapa saya mengaguminya, bukan karena perasaan “jiwa monyet” saya, atau iba dengan kondisinya, yang jelas itulah, sulit dikatakan dengan tulisan apalagi kanvas.

Dua orang bergaya preman tadi kembali menggangu pandangan saya, mereka lalu lalang didepan saya, namun satu hal yang sulit dipercaya, mereka memasuki kamar gadis itu. Pikiran saya bertanya-tanya, tapi kaki dan badan seolah menahan untuk tetap duduk dan mengamati hal-hal terjadi disana. Celah pintu yang terbuka memberikan saya gambaran yang jelas apa yang terjadi didalam sana. Dua orang tadi berbicara kepada sang ibu tadi dengan suara keras, sambil melempar kertas kewajah ibu itu, seorang dengan tato “Black Corps” tadi membentak-bentak seisi ruangan. “Ya, suasana Panas !

“Pyanggg…..” sebuah gelas pecah, dan berserakan di lantai ruangan itu, kedua pemuda itu keluar seraya memukul pintu, persis seperti lakon Antonio di telenovela siang, yang biasa saya tonton ketika kecil. Saya melihat ibu dan putrinya saling berpelukan ditengah isak tangis mereka. Hati saya tergerak, dan melangkah memasuki ruangan itu. Mereka memandangi saya dengan tatapan penuh curiga dan mata berkaca-kaca. Saya dapat merasakan atmosfir saat itu. dipojok dipan ada foto gadis itu dengan dua orang laki-laki tadi saling berpelukan dengan senyum berseri. Saya tebak mereka adalah saudara. Kertas-kertas yang berhamburan adalah resep dokter dengan tulisan yang berantakan, dan bill operasi dan rumah sakit, dan mereka masih berpelukan dipojok ranjang.

Lima menit berlalu, saya hanya menganggukkan kepala kepada sang ibu, lalu ia menepi menjauhkan tubuhnya dari sisi sang putri. Saya menatap dalam gadis itu, mata indahnya berkaca-kaca, tanpa mengatakan apapun. Saya menggenggam tangannya, dingin sekali, dan tersenyum. Air matanya mulai berjatuhan. Suasana membisu, tapi kami seolah telah berbicara dalam waktu yang lama. “Terima Kasih” ucapnya, saya diam, hanya anggukan saja. Kami telah berbicara tanpa bahasa, kami telah mengenal tanpa sebuah perkenalan, dan tak perlu waktu yang lama untuk meyakinkan diri saya, bahwa cinta itu ada. Kami terhanyut dalam sunyi, tak ada suara, hingga air mata ini membasahi selimut bantal, dan membangunkan saya dari mimpi yang panjang. Sebuah malam pojok ranjang, Tuhan menegur “saya” (Prs)

One thought on “Tuhan Menegur “Saya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s