Janji Matahari

“Melalui kesempatan berbahagia ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada……”

Itulah penggalan lembar-lembar kata pengantar dalam tugas akhir saya. Sepele memang, hanya lembar kertas bisu, dengan font Times New Roman berukuran 12 berwarna hitam. Namun disadari atau tidak, saya hampir dua jam menyelesaikan seluruh rangkaian sederhana kata pengantar tersebut.

Pikiran saya terus berlari, flashback, seolah mengejar sesuatu yang perlahan menghilang dari timeline saya. Saya ingat masa-masa depresi saya, ketika gagal mendapatkan jurusan pada bangku kuliah yang diinginkan, dicita-citakan sejak umur 10 tahun tepatnya. Saya ingat bagaimana orang tua saya hingga jatuh sakit hanya demi memikirkan nasib saya kelak. Saya juga teringat ketika tangis mereka menyadarkan saya, bahwa masih ada harapan diluar sana, dan saya juga ingat saya telah bangkit dari keterpurukan itu, dengan berangkat menuju ibukota dengan sejuta impian baru.

Tiga tahun telah berlalu, waktu yang cukup lama untuk mengakrabkan diri dengan akuntansi, dan semua pemacu adrenalin ketika menjelang H-1 Ujian Tengah Semester atau Ujian Akhir Semester. Ya tiga tahun…, berjalan begitu saja, terlalu cepat bahkan untuk menemukan jawaban pertanyaan sederhana saya, “Who am I now ?” karena hingga kini pun, saya tidak sepenuhnya yakin dengan jawaban yang saya miliki.

Rangkaian kata demi kata mulai menari diatas keyboard laptop saya, mulai dengan nama orang tua, sahabat, saudara, pembimbing, hingga yang tak bisa saya sebutkan satu-persatu. Sejenak saya tertegun oleh apa yang saya tulis, kenapa saya tak pernah berterimakasih kepada diri saya sendiri, padahal saya lah actor utama dibalik semua ini.

Saya percaya setiap awal memiliki akhir yang menjadi awal bagi fase hidup selanjutnya. Jadi semua itu tidak pernah terputus. Kita terus tumbuh, belajar, dan berkembang. Tidak pernah ada manusia yang sama, bahkan sedetik lalu pun, kita mungkin adalah manusia yang berbeda. Berbeda bukan tentu menjadi lebih baik, bisa juga sebaliknya, namun percayalah “Everything Happen for a Reason”. Ya, layaknya matahari, yang selalu berganti dari pagi menuju siang, kemudian malam, seperti itulah kita sesungguhnya. Mengejar mimpi layaknya matahari, selalu datang diufuk timur dan terbenam di barat, ia tak pernah berjanji, tapi ia selalu ada. It’s not the end, It’s just a beginning new ways, Selalu berlari mengejar Janji Matahari. (Prs2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s