Injury Time Lovers

Bangun pukul 5 pagi, segelas air putih, dan memutar playlist andalan adalah salah satu hobi yang belakangan mulai populer bagi saya. Saya merasa nyaman dengan semua hal itu, ya intinya saya mempunyai waktu yang lebih banyak untuk diri saya sendiri untuk merecanakan beberapa jam kedepan yang akan saya lewati. Playlist andalan pada waktu pagi hari saya namakan, “Start”. Beberapa berisi melodi acoustic dari Depapepe, Album Saxophonic dari Dave Koz dan beberapa lagu dari Avenged Sevenfold dari album Nightmare-nya. Biasanya urutannya seperti itu, It’s my mood bosster everyday in the morning, dan tentunya sebelum saya menyapa beberapa tweetpeople dengan semangat pagi, “Guten Morgen, Good Morning Tweeps”, dan bagian seperti ini saya sebut “Fore-Play” dalam tulisan saya kali ini.🙂

Oke, pada tulisan saya kali ini , saya ingin bercerita tentang pengalaman sekaligus hobi saya sebagai “injury time lovers”. Injury time adalah perpanjangan waktu yang diberikan dalam permainan sepak bola. Waktu kritis yang biasanya krusial, “when something unexpected happened fast !” Bagaimana tidak, tak jarang bukan hal-hal menegangkan terjadi pada injury time, sebut saja gol penentu kemenangan sebuah tim. Kembali lagi pada injury time, semua ini lebih sederhananya dilukiskan dalam satu kata, “Moment”.

Banyak orang sering mengabaikan “moment” ini, menganggap hal ini sepele, sehingga mereka tidak terlalu memperhatikan setiap detil pada akhir suatu hal, banyak juga yang sudah terlanjur merasa nyaman dengan hasil yang diperoleh, sehingga “moment” hanya ibarat sisa makanan yang akan berakhir ke tong sampah. Tidak salah, karena “life is choice” dan kitalah yang paling berhak menentukannya.

Saya sendiri pun sudah menentukan pilihan saya, untuk menjadi seorang “injury time lovers”. Jujur  saja istilah ini baru setengah jam yang lalu terlintas dibenak saya, setelah saya membaca buku Science of Luck by Bong Chandra, namun ternyata saya telah melakoni peran saya jauh sebelum itu. Pengalaman pribadi saya adalah ketika menghadapi moment ujian-ujian apapun itu di bangku sekolahan hingga kuliah. Mungkin jarang bahkan tidak pernah, saya keluar mendahului teman saya yang lain. Jika dalam kelas itu ada 30 siswa, maka saya menjadi siswa ke- 28, 29, atau 30 yang meninggalkan ruangan ujian. Betapa bodohnya saya, tapi disinilah perjalanan “injury time lovers” saya dimulai.

Saya mengakui terkadang hal ini membuat “galau” orang-orang yang menunggu saya, tentunya para pengawas ujian tadi. Mungkin sebagian karena ketidakmampuan saya pada ujian tersebut, tapi ada kesenangan tersendiri menikmati moment-moment yang hanya terjadi sekali dalam hidup saya. “Kapan lagi lo bisa kaya gini?” kata-kata mujarab ini selalu nempel di saku kantong baju sebelah kanan seragam sekolah saya. Bahkan yang buruknya lagi, saya sering menghabiskan sisa waktu tersebut, bukan dengan mengerjakan soal-soal, tapi membiarkan pikiran liar berimajinasi, “Apa ya selanjutnya setelah ini. Mungkin gw bakal rindu moment ini, Ok.. Gw puasin nikmatin sekarang !”  🙂

Kedengerannya lucu memang, menghabiskan waktu injury time  dengan melakukan hal diatas, atau (mungkin) terlihat konyol dimata orang lain (pengawas ujian). Tapi whatever, saya menikmati peran saya sebagai seorang “injury time lovers”. Satu hal yang selalu saya coba pahami dari hobi konyol saya ini adalah apapun hal yang kita kerjakan, kita harus memperhatikan detail, ending, dan process-nya. Injury time adalah kondisi dimana soul, mind, and body kita dituntut untuk bekerja ekstra. Jangan lengah, Do Your Best, and Enjoy The Moment , because Detail is POWER! (Prs.2011)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s