Prestasi Membanggakan Pemuda Indonesia “Indonesia Seven Summits Expedition”

Pendakian 7 puncak ( The Seven Summits) benua adalah sebuah pendakian prestisus di dunia pendakian internasional. Dengan mendaki ke tujuh puncak benua yang terdiri dari Carstensz Pyramid (4.884 mdpl)  di Indonesia, Kilimanjaro (5.895 mdpl) di Afrika, Elbrus (5.642 mdpl) di Rusia, Vinson Massif (4.889 mdpl ) di Antartika, Aconcagua (6.962 mdpl) di Argentina, Everest (8.848 mdpl) di Nepal dan Denali (6.194 mdpl) di Alaska maka secara otomatis pendaki tersebut akan mendapatkan julukan sebagai The Seven Summiteers sebuah sebutan yang disepakati secara internasional bagi mereka yang berhasil mencapai 7 puncak.

Usaha mencapai gelar The Seven Summiters  ini dimulai oleh (Alm) Norman Edwin dari Mapala Universitas Indonesia. Tetapi langkahnya harus terhenti di Aconcagua (6.962 mdpl) ketika jenasahnya ditemukan di gunung tersebut bersama jenasah (Alm) Didiek Samsu juga dari Mapala Universitas Indonesia. Sejak musibah ini terjadi pendakian untuk menggapai gelar The Seven Summiteer bagi Indonesia bagai hilang begitu saja.

Namun ternyata hal itu tak kandas begitu saja. Prestasi membanggakan telah berhasil diukir putra Indonesia di dunia Internasional. The First Indonesian Seven Summiters telah dikukuhkan oleh Tim Mahitala Universitas Parahyangan Bandung pada tahun 2011 ini. Tim Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar  (ISSEMU) terdiri dari Sofyan Arief Fesa (28), Xaverius Frans (24), Broery Andrew Sihombing (22), dan Janatan Ginting (22)

Tim Ekspedisi Seven Summits Mahitala Universitas Katolik Parahyangan tiba di Tanah Air

Perjalanan dimulai pada tahun 2009, yang dimulai di Carstensz Pyramid (4.884 mdpl)  di Indonesia. Selain Puncak Carstenzs Pyramid, Mahitala Unpar juga berhasil mendaki 8 puncak Pegunungan Sudirman yang membentang dari barat ke timur. Proses pertama pencapaian puncak pertama ini Mahitala Unpar boleh berbangga hati karena diantara kesebelas puncak yang berhasil didaki, 4 diantaranya belum pernah didaki oleh siapapun juga (first ascend). Kedelapan puncak yang berhasil diraih oleh Mahitala Unpar antara lain : Puncak Idenburg (4.730 mdpl), Puncak Merah Putih (4.284 mdpl), Puncak Garuda (4.613 mdpl), Puncak Mahitala (4.610 mdpl), Puncak Unpar (4.523 mdpl), Puncak Jaya atau Soekarno (4.862 mdpl), Puncak Sunday Peak, dan Puncak Carstensz Timur.

Saya bersama Sofyan Arief Fesa, anggota Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (ISSEMU)

Puncak Kedua dalam rangkaian “The Seven Summits” adalah Kilimanjaro (5.895 mdpl) di Afrika, Untuk mendaki Kilimanjaro, Tim Pendaki ISSEMU sudah menentukan rute mana yang akan mereka jalani hingga menuju Puncak Uhuru (nama lain dari puncak tertinggi Kilimanjaro). Untuk menuju Puncak Kebebasan (Uhuru = Kebebasan) mereka memilih Rute Machame. Dengan segala macam bentangan alam yang menghadang, maka akhirnya Tim Pendaki ISSEMU berhasil menggapai Puncak Uhuru tepat pada tanggal 10 Agustus 2010 pk. 10.20 waktu setempat atau pk. 14.00 WIB

Perjalanan berlanjut, Puncak Ketiga dalam rangkaian “The Seven Summits” adalah  Elbrus, Rusia (5.642 mdpl). Dengan 2 puncak yang hampir sama tinggi (Puncak Timur dan Barat), Elbrus memberikan tantangan tersendiri bagi para pendaki kelas dunia. Mahitala Unpar sendiri pernah berkesempatan untuk mendaki atap Eropa ini pada pertengahan tahun 2009. Ketika itu Sang Dwi Warna berhasil dikibarkan tepat pada tanggal 17 Agustus 2009. Tim Pendaki ISSEMU berhasil mencapai Puncak Timur Elbrus tepat pada tanggal 24 Agustus 2010 pada pk. 14.45 waktu setempat atau sama dengan pk. 17.45 WIB. Dari proses summit attack inilah ternyata tercipta sebuah jalur yang diberi nama Indonesian Route oleh para Rescuer Elbrus (sebutan untuk Jagawana atau Polisi Gunung di Elbrus) sebagai penghargaan kepada Tim Pendaki ISSEMU yang berhasil membuka jalur baru selepas Camp Lenz Rock (4.750 mdpl) tanpa ditemani oleh pemandu ataupun pendaki lainnya.

Puncak keempat dalam rangkaian “The Seven Summits” adalah Vinson Massif (4.897 mdpl), Antartika. Tepat pada tanggal 13 Desember 2010 pk. 17.07 waktu Chile atau setara dengan 14 Desember 2010 pk. 03.07 WIB, Merah Putih berhasil dikibarkan di titik tertinggi benua Antartika, Vinson Massif. Keberhasilan ini sekaligus mencatatkan bahwa Tim Pendaki ISSEMU adalah Tim Indonesia Pertama yang berhasil mencapai Puncak Vinson Massif dengan gemilang. Dan di gunung ini pula Tim Pendaki ISSEMU berkenalan pertama kalinya dengan suhu ekstrim -30 hingga -40 derajat Celsius

Puncak Kelima dalam rangkaian “The Seven Summits” adalah Aconcagua (6.962 mdpl), Argentina. Aconcagua yang memiliki julukan cukup membuat bulu kuduk berdiri, The Devil Mountain. Sebutan ini mewakili kesangaran cuaca di Aconcagua yang memburuk sesukanya tanpa bisa diprediksi dengan baik. Dalang dari kesangaran Aconcagua tak lain adalah el viento blanco. El viento blanco adalah sebutan dari badai yang amat menakutkan di Aconcagua. Secara tiba-tiba kabut akan menyelimuti kawasan pendakian disertai angin kencang dan hujan salju. Melalui serangkaian ujian yang terasa berat, akhirnya Tim Pendaki ISSEMU (kecuali Janatan) berhasil mencapai Puncak Aconcagua pada tanggal 9 Januari 2011 pada pk. 11.30 waktu Mendoza atau pk. 21.30 WIB. Sementara Janatan berhasil mencapai Puncak Aconcagua 20 hari kemudian pada tanggal 29 Januari 2011

Puncak Keenam dalam rangkaian “The Seven Summits” adalah  Everest (8.848 mdpl) di Nepal. Tim Pendaki ISSEMU kembali menggulirkan petualangnya. Hiroyuki Kuraoka, konsultan pendakian seven summits ISSEMU menyatakan bahwa Tim Pendaki ISSEMU telah memiliki kemampuan yang amat baik dan layak untuk mendaki gunung es sekaliber Everest. Perjalanan dimulai dari Lukla (2.850 mdpl), sebuah desa kecil tempat Tim Pendaki ISSEMU memulai pendakiannya menuju puncak tertinggi di dunia. Dari Lukla Tim Pendaki ISSEMU harus berjalan kaki selama 11 hari menuju Everest Base Camp (EBC). Tim Pendaki ISSEMU tiba di EBC pada tanggal 12 April 2011.

Selain empat Pendaki ISSEMU, Mahitala Unpar mengerahkan sebanyak 10 orang anggotanya (termasuk wartawan Kompas Ahmad Arif yang diberangkatkan untuk meliput pendakian ini) khusus diberangkatkan menuju EBC untuk membantu kelancaran proses pendakian Everest yang memakan waktu 2 bulan lebih. Tim Pendaki ISSEMU melakukan proses pendakian menuju Puncak Everest dalam dua kali percobaan. Pada percobaan pertama Tim Pendaki ISSEMU bertolak menuju camp 2 pada tanggal 10 Mei 2011. Dan pada tanggal 12 Mei mereka sudah tiba di camp 3 (7.300 mdpl) dengan mulus tanpa hambatan. Tanggal 17 Mei 2011 pk 10.15 waktu Nepal, summit push kedua kalinya untuk Tim Pendaki ISSEMU kembali dilakukan. Tercatat pada tanggal 19 Januari 2011 akhirnya mereka berhasil tiba di South Col di ketinggian 7.900 mdpl. South Col kerap disebut sebagai pintu menuju Death Zone yang berarti bahwa mereka akan segera berhadapan dengan ketinggian 8.000 meter ke atas dan menandakan pula suatu daerah di mana orang mustahil untuk hidup tanpa bantuan oksigen.

Akhirnya semua usaha yang begitu keras terbayar sudah ketika Tim Pendukung ISSEMU mengabarkan bahwa Broery Andrew Sihombing berhasil mengibarkan Bendera Merah Putih di Puncak Maha Gunung Everest tepat pada tanggal 20 Mei 2011 pk. 05.22 waktu Nepal atau pk. 06.37 WIB. Disusul kemudian oleh Janatan Ginting berhasil menembus ketinggian 8.848 mdpl pada pk. 07.26 waktu Nepal atau pk. 08.41 WIB. Diikuti oleh Sofyan Arief Fesa dan Frans yang mencapai Puncak Everest bersamaan pada pk. 09.45 waktu Nepal atau pk. 11.00 WIB sekaligus menggenapi prestasi Tim ISSEMU yang mendaki Everest dengan hasil one hit one victory. Perayaan pencapaian Everest ini mendapatkan pujian dari berbagai pihak bahwa anak bangsa berhasil mengibarkan Bendera Merah Putih di puncak Everest.

Puncak terakhir dalam rangkaian “The Seven Summits” adalah Puncak Denali. Pendakian Denali adalah pendakian yang tersulit karena para pendaki harus menghadapi jarak vertikal sepanjang 3.969 meter tanpa bantuan pengangkut barang atau porter. Perlengkapan yang dibawa memiliki berat total 50 kilogram dengan pembagian 20 kilogram akan dibawa dengan ransel yang menggantung di pundak dan 30 kilogram berikutnya akan dibawa dengan kereta salju atau sled yang akan ditarik oleh masing-masing pendaki. Tercatat selama 19 hari pendakiannya di Denali, Tim Pendaki ISSEMU sempat tertahaan beberapa hari di dalam tenda untuk menunggu meredanya cuaca buruk sehingga proses untuk menambah ketinggian berhasil dilakukan.

Hingga akhirnya kabar gembira itu diterima di Tanah Air bahwa Tim Pendaki ISSEMU berhasil mencapai Puncak Denali pada tanggal 7 Juli 2011 pk. 17.37 waktu setempat atau sama dengan tanggal 8 Juli 2011 pk. 08.35 WIB. Prestasi gemilang ini sekaligus menorehkan sebuah sejarah baru di dunia pendakian Tanah Air bahwa setelah sekian lama akhirnya Indonesia memiliki  The Seven Summiters pertamanya yang dipersembahkan oleh empat Pendaki ISSEMU. Ini juga menandakan bahwa Indonesia akan segera bergabung bersama 52 negara di dunia yang memiliki pendaki bertitel The Seven Summiteers dan sekaligus akan bergabung bersama 275 pendaki internasional yang memiliki titel serupa.

Penasaran dengan cerita mereka ? Saksikan Kick Andy episode SEVEN SUMMITS, Pada 26 Agustus 2011 nanti di Metro TV

2 thoughts on “Prestasi Membanggakan Pemuda Indonesia “Indonesia Seven Summits Expedition”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s