Rest In Peace

The place where there’s no happiness and sadness. The place where everyone’s going to in the end of journey. The place where hope’s still alive forever. Rest in peace  my Grandpa, we love you as always.

Dearest, I Wayan Sugiarta Family

Minggu  18 September 2011, 11.25 WIB,  Handphone saya berdering, telepon dari tante di Jakarta. Saya menjawab, lalu terdiam dan menangis, darah saya serasa memenuhi kepala, pikiran melayang entah kemana, entah mau bilang apa, saya kalut. Masih tidak percaya dengan telepon tadi saya langsung menelpon Ibu di Bali, seperti sudah tahu kemana pertanyaan saya, yang terdengar hanya isak tangis mereka, kata terakhir yang menempel di telingga saya, “Yang sabar ya, kita ikhlasin semuanya”. Saya masih terisak dan menutup telpon. Kakek saya telah berpulang.

Empat hari yang lalu, beliau sedang melaksanakan tugas di Makassar, pada rabu malam kami dikagetkan dengan berita bahwa beliau masuk ke rumah sakit, mengalami pendarahan di otak, dan koma selama kurang lebih 2 hari. Pada saat yang bersamaan keluarga langsung berangkat ke Makasar. Sedangkan saya harus kembali ke Jakarta pada tanggal 17 September untuk mengikuti yudisium di kampus. Tidak ada perasaan yang janggal, saya dan bibi saya sangat yakin beliau akan kembali pulih, ya Beliau tidak pernah memiliki riwayat penyakit seperti ini sebelumnya, dan kami tahu beliau adalah sosok yang kuat dan tegar.

Beliau di mata saya adalah sosok pengayom yang baik. Beliau adalah adik nenek  kandung saya, dari keluarga besar ibu, tapi bagi saya beliau adalah kakek saya, penyemangat saya.  Bagi saya beliau adalah founding father, beliaulah orang pertama yang mengenalkan Jakarta pada saya, beliaulah yang menceritakan dan mengarahkan untuk masuk prodip keuangan, hingga akhirnya saya menyelesaikan pendidikan saya di Jakarta, dan hidup saya berubah.

Beliau adalah tulang punggung keluarga besar kami, seorang penunjuk jalan bagi anak, dan cucu-cucunya. Dibalik jadwal yang terlampau padat, saya terakhir bertemu beliau sebulan yang lalu, ketika saya berada di Bali selama kurang lebih 3 minggu. Saat itu beliau menelpon saya, dan mengatakan beliau ingin sekali bertemu dan sekedar bercerita. Setelah pulang kantor saya langsung mampir, dan kami bercerita kurang lebih 2 jam-an.

Belliau banyak bercerita tentang keluarga besar kami, tentang masa depan karir, tentang hidup. Saya akui itu adalah kali pertama beliau bercerita tentang hal itu. Ditemani dengan secangkir jeruk hangat obrolan kami mengalir begitu saja. Satu yang selalu saya ingat, pesan beliau, “kalau sudah kerja nanti, kejujuran itu harus, dan keluarga adalah yang utama”. Hingga detik inipun saya masih tidak percaya, bahwa itu adalah obrolan terakhir kami. Kini beliau sudah pergi meninggalkan kami, ke suatu tempat yang penuh kedamaian. Saya selalu mengantarkan beliau dalam doa. Lilin beliau telah menerangi hidup dan menunjukan jalan kami,  Kami telah mengikhlaskan beliau, Semoga tenang disisiNya, Selamat Jalan.

One thought on “Rest In Peace

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s