Langkah-langkah (1)

ImageTerima Kasih, itulah yang ingin saya ucapkan mengawali tulisan ini. Akhirnya bisa kembali update di blog, setelah sekian lama vakum, dan hanya sekedar “blogwalking”. Saya akui lebih mudah menulis ketika mode dalam otak saya sedikit melankolis, dan mungkin banyak momen menarik yang saya temui hari ini. Naik bus kota bagi sebagian  orang mungkin suatu yang biasa saja. Biasa dengan polusinya, pengamennya, hingga macetnya. Tapi sejak sebulan yang lalu, saya sangat menikmati ketika jam 06.30, saya terbiasa berpacu dengan P11 jurusan Terminal Senen, dengan segala euphorianya (baca: suka duka).

Yaa,, sejak bertugas sementara di Lapangan Banteng, saya mulai terbiasa dengan rutinitas ibukota. Malah kalo Jakarta enggak macet tuh aneh buat saya, meskipun saya hampir 4 tahun di Jakarta ya. Belakangan saya justru merasakan bahwa saat saya dalam bus kota, adalah waktu yang pas untuk “me-time”. Jadi tadi pas di Bus kota saya melihat seorang ibu yang menggendong anaknya, dan saya inget Ibu saya di Rumah. Lihat anak-anak ABG SMA masuk sekolah, saya ingat masa imut-imut SMA saya, sampai akhirnya saya melihat seorang lansia yang masih harus menikmati udara kotor Jakarta, dan saya mulai menerawang jauh kedepan, “apakah saya akan seperti ini ?”

Terlepas dari itu semua, saya selalu berusaha menyadarkan diri saya bahwa segala yang sedang terjadi di depan saya, memang harus terjadi, dan akan terjadi jika itu belum terjadi. Apakah itu salah ? tidak ada yang salah dengan semua itu. Saya flashback ketika dulu kecil diajak Ibu ke Pasar berjualan untuk menghidupi keluarga, melihat bapak yang bekerja keras untuk saya dan ibu, begitu hebatnya perjuangan kedua orang tua saya, hingga akhirnya bapak menyelesaikan studi s3 beliau dan saya mengenal Jakarta, sebuah kota yang nyaris tidak akan ada dalam kamus mimpi saya.

Dulu ketika SD, guru saya bertanya siapa pahlawan kebanggaanmu ? saat itu saya bingung, dan menjawab Soekarno dan Cut Nyak Dien. Tapi sejenak saya menyadari Bapak dan Ibu saya adalah pahlawan bagi saya. Begitu jauh perjalanan yang telah saya lalui, kaki mungil saya telah berpijak di sebuah daratan mimpi yang bernama Jakarta. Mungkin bukan sebuah kebanggaan, tapi inilah jalan yang Tuhan berikan untuk belajar bersyukur atas apapun kondisi kita saat ini. Jalan masih panjang, Cerita baru akan ditulis, Mimpi sedang di rajut, biarkan Cinta mengalir didalamnya, dan Halte Wahidin sudah memanggil saya pagi itu,

 

2 thoughts on “Langkah-langkah (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s