“The Placed We called Home”

 Image

Senja menembus pojok barat Jakarta, Tiket penerbangan terakhir di hari itu sudah duduk dengan manis di ransel belakang, segala peralatan telah siap bak akan memulai sebuah perjalanan panjang, namun apa daya pikiran telah melampaui kecepatan suara, ia telah berlabuh pada suatu tempat, “The Placed We called home”.🙂

“Buk, nanti masak yang enak ya, Sayur jamur dan tempe asam manis”, masakan ibuk adalah sebuah tradisi bagi saya saat pulang ke kampung halaman. Salah satu hal yang saya rindukan selain wajah-wajah mereka plus kehangatan pondok kecil kami. Kurang lebih 8 bulan, saya memulai perjalanan karir saya di Jakarta, dan kini saya mendapat kesempatan untuk sejenak melepas rindu, dengan bertemu sanak keluarga. Jam sudah menunjukan pukul 6 sore, kaki sudah menapak di terminal 3 Soekarno Hatta. Bayang-bayang pesawat jelas tergambar dalam benak, “sebentar lagi” gerutu saya dalam hati.

Petang itu, saya ditemani Brida-nya Paulo Coelho di ruang tunggu keberangkatan. Headset sudah terpasang, alunan Dave Kozz, jazz favorit, sudah menggema, dan akhirnya Brida menceritakan kisahnya. Kurang lebih 3 jam saya membolak-balik 40 halaman Brida, hingga akhirnya Pihak bandara mengumumkan bahwa pesawat terkena delay selama 30 menit. Saya tidak terlalu menghiraukan, perhatian saya teralihkan oleh Brida yang menceritakan malam-malamnya mencari Sang Magus. “Sebentar Lagi, Pras” celetuk saya lagi.😀

Bagi saya menikmati Bali dengan seisinya belakangan terasa sangat berarti. Mungkin bagi sebagian orang lebih mengenal Bali karena pariwisatanya, keindahan alamnya, tempat hiburannya. Namun bagi saya cukup sederhana, dimana tempat bagi kami (keluarga) untuk berkumpul dan ya bercerita tentang hidup. Saya melihat Bali seutuhnya setelah saya tinggal cukup lama (hampir 4 tahun) di luar. Saya merasa memiliki Bali, ketika saya merasakan macetnya jalanan yang mungkin dulunya mobil pun jarang. Saya merasa memiliki Bali ketika hektaran sawah di sepanjang kampung halaman saya kini disulap bak Bandung Bondowoso menjadi hamparan beton mengatasnamakan “pariwisata”. Atau ketika budaya, tradisi, upacara, dan ritual yang mulai kehilangan makna karena sebagian besar generasinya, menganggap itu adalah sebuah acara biasa yang akan berulang lagi di kesempatan berikutnya, ya sekedar ingat saja tanpa makna yang lebih. Mungkin…

Pernah suatu ketika saya iseng jalan-jalan di Ubud, dan melihat sekawanan tourist mancanegara yang (sepertinya) terkagum-kagum dengan arsitektur bangunan kuno yang berada di sepanjang kawasan Puri Ubud. Dia bertanya-tanya seputar bangunan tersebut kepada guidenya, dia mengatakan “You guys’re so lucky, Live in the place like this, the air, sunshine, and great culture”. Bagi sebagian orang mungkin pujian seperti itu tidak lebih berarti daripada selembar dua lembar dolar.Terbesit rasa syukur dalam benak saya, saya dilahirkan dan besar di pulau yang indah, namun apakah bersyukur itu cukup hanya dengan diam, dan tak melakukan apa-apa, atau bahkan hanya percaya bahwa tempat yang kita sebut “home” itu baik-baik saja ? atau akankah anak saya melihat dan merasakan Bali seperti yang saya nikmati saat ini ? atau mereka hanya mengatakan, “Dulu katanya begini….”,😛

Saya cuma diem, dan tak berusaha untuk mencari jawaban atas pertanyaan gila yang ada diotak saya. Saat itu Saya melanjutkan berjalan menuju sebuah ashram yoga, dan pertanyaan itu kembali luluh karena sapuan angin sejuk Ubud.Sebagai orang yang saat ini belum bisa berbuat banyak, saya menyadari disaat banyak yang menikmati hasil dari ekploitasi pariwisata Bali, mungkin sedikit orang yang akan ingat bagaimana kondisi saudara-saudara di Bali bagian timur yang sedikit lebih dibelakang, masih banyak yang belum bersekolah, belum layak pangan, sandang, papan, atau yang lebih wah nya lagi klaim tari pendet oleh negara tetangga. Seolah fenomena gunung es, hingar bingar pariwisata Bali. Khayalan saya semakin melambung seiring dengan deru mesin pesawat di ketinggian 6000 feet. Tampak dari atas lautan cahaya yang sejenak berganti menjadi pekatnya lautan di malam hari, bahkan mercusuar pun hanya terlihat bagai titik dari atas.

Jauh dari itu semua, saya sempat diingatkan oleh seorang sahabat dari Kanada tentang penggunaan kata “home” dan “house” untuk menunjukan rumah. Dalam chat kami via media online, kami banyak bercerita tentang kampung halaman masing-masing. Saya dengan senang hati menceritakan suasana desa, lengkap dengan kicauan burung, desir angin, dan aroma tanah dikala hujan. Begitupun dia, dengan bersemangat menceritakan dinginnya salju, musim panas yang menghangatkan seisi rumahnya, hingga aneka bunga.Banyak yang saya sadari bahwa perbedaan budaya, dan tempat ternyata tidak sedikitpun mengaburkan makna rumah bagi setiap orang, hingga diakhir obrolan kami, dia berkata, “You can buy a big house with alot of money, but it can’t buy love inside it, and It we called home”.

Suara pramugari melalui speaker membangunkan saya, “Welcome to Ngurah Rai International Airport, see you on next flight, Thank You..
Welcome Home Kids !🙂🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s