Balada Senin Pagi, “Kerja Ikhlas”

Dear Reader, Saya bingung mau mulai dari mana,  terlalu banyak yang saya ingin kuras. Meminjam kata-kata Falla Adinda, seorang dokter yang novelnya baru selesai saya baca semalem suntuk, “The louder your music, The bigger your problems”, tidak berlaku bagi saya malem ini. “I’m Ok”, kata saya dalam hati. Sayup-sayup Jazzy music Grove the Praira, mengalir indah melalui Seinheiser kesayangan. Segelas susu hangat, well…🙂🙂 segelas Anlene hangat tepatnya, sedang mencairkan kepenatan saya sehari menikmat jalanan ibukota.

Saya punya cerita menarik, beberapa sahabat saya dikantor (termasuk saya) sedang “belajar” melalui suatu peristiwa, sedikit berdampak sistemik pada tingkat kelengkungan senyum kami di pagi hari. Hanya masalah miskomunikasi jadwal suatu hal yang bisa jadi belum tentu benar. Jadi terjadi benturan jadwal antara beberapa tugas yang mau tidak mau harus dilaksanakan, sementara volume pekerjaan yang “waw” tidak dibarengi dengan alokasi SDM yang mencukupi.

Hingga akhirnya kami duduk bersama, dan “sharing”, saya lebih suka menyebutnya “sharing” dibandingkan rapat pleno, meskipun format acara pagi itu ya memang rapat dan sedikit “serius & tegang”,hehe…. Unek-unek dan keluhan segera ditumpahkan, Ide-ide mengalir, alasan-alasan pertimbangan mulai disampaikan, perbedaan pendapat terjadi, hingga akhirnya 20 menit berlalu, suasana masih sama. Hingga akhirnya pimpinan kami membuat suatu closing statement, “Saya yang salah, Saya yang akan bertanggung jawab, Teman-teman silakan lakukan kembali tugas seperti biasa, dan untuk kedepannya kita harus meningkatkan komunikasi intens”. And It’s Over, Sharing ditutup. Banyak ekspresi kepuasan, sedikit kecewa, atau biasa-biasa saja seperti saya.😀

Saya enggan menanggapi closing statement tadi, saya hanya mencoba “belajar” dari pengalaman tadi, memimpin itu tidak mudah. Terkadang dengan naluri kritis, kita lebih mudah menemukan sesuatu untuk dikritik daripada sesuatu untuk disyukuri. Mengkritik tidak salah, selama itu untuk kemajuan. Tapi kalo kritik difensif hanya sekedar untuk complaining, tanpa menawarkan solusi, patut kita pertimbangkan lagi.

Saya yakin kami, sebuah tim, memiliki suatu visi yang sama, namun sering kali ada saja hambatan dalam mencapai suatu goal, “A lot of great skills, One Goal, Work Together”, yang perlu saya dan teman-teman lakukan adalah membangun suatu chemistry “Team Work”. Tidak mudah, tetapi bisa jika ada usaha untuk mencoba.

Begitupun saya, sebagai anggota yang tergolong baru di kantor, saya banyak belajar mengenai karakter masing-masing, bagaimana saya menyesuaikan ritme kerja saya dengan tim, dan yang penting bagaimana saya bisa berkomunikasi dengan baik dan efektif. Saya bersyukur bisa bergabung dalam sebuah tim yang kebanjiran orang mumpuni di bidangnya, sementara saya tidak lebih dari seorang yang terus belajar dan belajar.🙂

Pernah disuatu malam, ketika saya dirumah bersama Ibu, Beliau menceritakan bagaimana kreatifnya ia demi mencari selembar rupiah untuk hidup sehari-hari. Saya inget saat disela waktunya, Ibu sempat membuat beberapa macam kue untuk dititipkan di warung atau kantin sekolah, bangun saat subuh untuk berbelanja bahan, hingga impian ibu untuk punya sebuah toko tercapai, dan pasang surut usaha dagang Ibu. Saya sedikit banyak mengalamai tidur diatas karung beras yang akan Ibu jual di Pagi hari, memikul dus dan keranjang buah segar untuk pelanggan yang setia menunggu ketika subuh tiba, lalu berlari pulang untuk mengejar sekolah, hingga siang menjelang, membantu ibuk menutup toko. Saya tidak pernah berani bermimpi untuk bisa keluar dari kotak kota kecil kami, yang saya ingat hanya, “Besok pagi, jam 5 bangun kepasar bantu ibu buka, jam 06.30 Ke sekolah, jam 2 siang bantu Ibu nutup toko”.

Ibu adalah tipe pendidik yang keras, Beliau ndak banyak bicara, dan perasa. Kadang saya dan Malika, mengerti apa yang belum kami lakukan dengan baik dan itu harus dibereskan. Tapi itulah kenangan saya dengan Ibu, yang selalu saya ingat, terutama ketika hujan turun, Ia selalu mengalir membasahi ingatan saya. Pesen Ibu Cuma satu ketika mengantar saya di pintu keberangkatan, “Kamu sudah gede, Ibu percaya, Hati-hati, Kerja yang ikhlas”, Mata kami berair.

“Legowo… Legowo…Kerja yang ikhlas”, Gumam saya membangunkan lamunan singkat di Pagi yang mulai ceria. Tim kami kembali on fire, Slogan kami mulai bergema, “Jaga Kesehatan, Kekompakan, dan Kebahagiaan”, seperti yang tertempel dipojok timur ruangan.  “Terima kasih Buk”.  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s