Menumbuhkan Hobi Bercerita Sejak Dini #dukungTakita

ImageBermula dari timeline socmed, saya menemukan account @IDcerita, yang banyak sharing tentang pengalaman bercerita dengan tagar #dukungTakita, dan semangatnya yang datang membawa cerita untuk anak Indonesia yang ceria, akhirnya menggugah minat saya untuk menceritakan pengalaman masa kecil saya bersama keluarga dalam menumbuhkan hobi “bercerita”

Bercerita memang menjadi sesuatu yang tak ada habisnya, selalu ada hal-hal yang fresh  dan menarik dari sebuah momen bercerita. Terkadang apapun topiknya, jika dibawakan secara cerdas dan hear catching, pendengar akan terbawa pada suatu suasana seolah ada dalam imajinasi alur cerita itu. Hobi bercerita bagi saya sendiri adalah hal yang mulai dibiasakan oleh Ibu sejak masa kecil. Mulai dari cerita dongeng Ibu saat menjelang tidur malam, cerita kakek ketika sabtu malam saya menginap di kampung kecil kami, atau pengalaman membaca saya yang kemudian saya ceritakan kepada orang lain.

Setelah saya pikir-pikir, ternyata dalam menumbuhkan minat bercerita di usia dini, lingkungan dan pola asuh keluarga mempunyai peran yang sangat besar. Saya ingat sewaktu kecil, tidur di lengan bapak atau ibu saat malam adalah “kode” bahwa saya siap mendengar cerita dari beliau berdua. Cerita pertama mereka saat hujan malam itu adalah fable “Kancil”, Ibu bercerita dengan nada suara kancil yang lucu, dan gerak tangan yang menirukan bagaimana kancil berbicara. Kancil adalah binatang yang pandai dalam mengelabui teman-temannya, seperti Ibu yang pandai mengelabui rasa kantuk saya jika jam menunjukan pukul 10 malam.

Kemudian setelah beberapa saat, ketika kemampuan membaca saya telah cukup lancar, beliau mulai memberikan beberapa buku cerita bergambar, sejenis komik, temanya masih sama, yaitu cerita tentang kehidupan binatang. Sejak kecil saya lebih menyukai cerita tentang binatang, bagaimana membayangkan mereka berbicara seperti manusia, dan persahabatan diantara mereka yang mungkin bisa lebih akrab dan hangat dibandingkan manusia jaman sekarang, hehe…

Kadang ibu menemani saya membaca halaman demi halaman, setiap beberapa halaman beliau menceritakan kembali dengan gaya beliau sendiri, dan saya pun ikut gaya-gayaan bercerita menirukan gerak tangan Ibu saat bercerita. Disaat beliau sibuk, saya kadang menghabiskan lembaran komik sendiri ya tentunya membaca dengan suara nyaring. Kebiasaan saya saat kecil jika membaca sesuatu harus dengan suara yang “agak keras”, karena saat kecil dulu, tantangan membaca adalah “mengantuk”, jadi Ibu selalu mengingatkan, “Ayo kalo baca yang keras, biar ndak ngantuk”. 

Jika beliau tak sempat menemani saya membaca cerita, maka pada malam harinya, giliran Ibu yang mendengarkan cerita saya. Duduk di pangkuan Ibu, dan “berceloteh”  tentang cerita yang barusan saya baca, selalu menjadi momen yang saya kenang. Ibu pun selalu mendengarkan dengan seksama, tanpa pernah memotong “celotehan” saya.  Jika menjelang sabtu atau minggu, kami menghabiskan lebih banyak waktu di Kampung, Daerah dataran tinggi Bedugul, Bali, udaranya dingin dan rawan hujan.

Tak beda jauh dengan Ibu, Kakek adalah pencerita yang handal, saya selalu kagum dan mendapat hal- hal baru setelah mendengar kakek bercerita. Suatu kebiasaan saya, kalau udah nginep di kampung, tidurnya kudu sama kakek. Dan seperti biasa, kakek mulai bercerita tentang legenda-legenda tradisional Bali. Kadang beliau menyisipkan obrolan percakapan dalam bahasa daerah kami, dan diujung cerita pasti ada pesan positif dari cerita itu. Saya ingat cerita pertama beliau berjudul “Manik Angkeran”.  Keesokan harinya giliran saya story tellingkepada Ibu, apa-apa yang kakek ceritakan, Begitu seterusnya, sehingga bercerita itu menjadi hal yang menarik bagi saya. Hoby bercerita tidak bisa berdiri sendiri tanpa kemauan untuk membaca dan mendengarkan. Dengan membaca kita jadi tahu, dan dengan mendengarkan kita jadi lebih tahu.

Image

Kebiasaan bercerita sejak dini memberikan beberapa pengaruh positif bagi anak, pertama kebiasaan bercerita akan mendorong anak untuk lebih mudah bergaul dengan lingkungan sekitar. Hal yang saya rasakan adalah, Saya menjadi  terbuka dengan orang tua tentang apa yang saya rasakan, dan nyaman mendengarkan obrolan dengan sahabat-sahabat ataupun dengan orang yang baru saya kenal. Kedua melatih kepercayaan diri pada anak, berani bercerita tentang sesuatu kepada orang lain adalah hal yang patut diapresiasi dari seorang anak. Terkadang ada beberapa anak-anak yang sulit untuk menyampaikan sesuatu di depan umum, banyak alasan, seperti malu, minder, takut atau lainnya. Ketiga meningkatkan kreatifitas dengan melatih imajinasi anak. Dalam bercerita, pendengar atau pencerita pasti memutar “film” nya masing-masing dalam pikiran mereka. Bagaimana alur bahkan detail cerita yang disampaikan, jelas terbayang dalam benak anak-anak. Contohnya ketika mendengar istilah tertentu, “kancil” misalnya, imajinasi saya langsung tertuju pada binatang cerdik, pandai dan melompat.

Bercerita itu menarik, ketika anda benar menikmati dan masuk dalam alur cerita itu. Sekian dulu ya, semoga bisa menginpirasi untuk bercerita sejak dini. Selamat Bercerita😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s