Rayuan Batang Hari

Image

“Berlayar”, Posted in Instagram @putuprasasta

Rumus Ngebolang = Cintai (Budayanya +Alamnya + Orangnya)”

Akhirnya dapet kesempatan nge-“bolang” lagi setelah sekian lamanya pelampiasan sesi Weekend hanya berujung pada lembar- lembar resensi beberapa dari beberapa buku Goodreads Year Challenge 2013. Yaa… bagi saya ngebolang adalah bagian dari refresh setelah workdays, karena alam adalah satu-satunya hiburan yang tak kehabisan akal untuk membuat kita kagum akan keindahannya.

Kali ini saya berkesempatan untuk mengunjungi Desa Seberang Sungai Batang Hari, Jambi. Jambi yang dikenal dengan wilayah hutan dan sungai yang luas ternyata banyak menyimpan keunikan budaya. Mulai dari kuliner, arsitektur, gaya hidup, hingga kesenian tradisional. Sambil bersilaturahmi dan ngebolang, mungkin itulah yang cocok untuk menggambarkan hari ini.

Image

Jembatan Batang Hari, posted in Instagram @putuprasasta

Perjalanan menuju desa seberang dapat ditempuh dengan dua cara, yaitu melalui jalur darat dan sungai. Sepanjang jalur darat, kita akan banyak  dimanjakan oleh hamparan perkebunan, rawa. sungai yang luas, serta kemegahan arsitektur jembatan Batang Hari yang menghubungkan antara wilayah kota Jambi dengan wilayah seberang. Perjalanan darat memakan waktu yang lebih lama, jadi saat itu saya putuskan untuk mengambil jalur sungai.

Saat ini transportasi penyeberangan Sungai Batang Hari banyak dimanfaatkan oleh masyarakat, selain karena waktu tempuh yang lebih singkat, keistimewaan lainnya adalah karena view sungai Batang hari yang tak kalah indahnya. Dengan satu getek bermotor saya membelah Batang Hari, menyapu indahnya panorama sungai di tengah getek adalah pengalaman yang unik.

Hamparan sungai yang memukau sedikit diganggu oleh pemandangan sampah yang berada di tepian pemberhentian getek. Tak ayal pendangkalan sungai menjadi tantangan tersendiri bagi Pemerintah Jambi, untuk menjaga kelestarian sungai. Saat ini memang tengah diupayakan pembangunan jembatan yang menghubungkan desa seberang langsung ke pusat kota.

Image

Tepian Sungai Batang Hari, posted in Instagram @putuprasasta

Sesampai di Desa Seberang, mata saya dimanjakan oleh kumpulan rumah tradisional Jambi, Rumah Panggung. Arsitekturnya yang unik, sekilas mirip dengan rumah tradisional di Kalimantan. Hal ini disebabkan karena topografi lahan yang berupa rawa pada awalnya sehingga mengantisipasi dampak bannjir. Tinggi Panggung kira berkisar 4 s.d. 5 Meter, dengan design atap khas Segitiga Jambi, dengan hiasan ornament ukiran “Angso Duo” yang apik.

“Angso Duo” adalah ciri khas masyarakat Jambi, ini banyak tertuang dalam gaya arsitektur Jambi, dan motif kain Batik khas  Jambi. Menurut cerita yang saya dengar dari seorang sahabat, Konon ketika sultan Jambi hendak membuka wilayah untuk pemukiman dan pusat pemerintahan kerajaan, beliau menggunakan bantuan angsa. Sekumpulan Angsa (bahasa Jambi : Angso) dilepaskan, lalu setelah sekian lama diamati beberapa tempat yang digunakan oleh sekumpulan angso itu untuk bertelur dan menetap. Akhirnya tempat-tempat itulah yang digunakan sebagai pusat pemerintahan dan pemukiman penduduk karena relatif aman.

Image

Rumah Panggung Jambi, posted in instagram @putuprasasta

“Nge-Bolang” dilanjutkan lagi, kali ini, saya mampir ke rumah seorang rekan kantor untuk silaturahmi, sekalian menyanggupi ajakan makan siangnya juga, hehe🙂 Jadilah perut saya dimanjakan aneka kuliner khas Jambi, seperti Kue Masubah, Tape, Pempek, Kue Tanah, dan berbagai masakan yang didominasi berbahan dasar ikan. Yang menarik adalah semua kuliner itu pertama kali saya cicipi di Jambi, dan gratis pula, hehe😀

Kue Masubah adalah kue khas lebaran Jambi, terbuat dari campuran telor, tepung, susu, gula. Rasanya manis pekat, dan berkalori tinggi. Dihidangkan dalam potongan kecil, sekilah bentuk nya mirip seperti lapis legit. Kalau di daerah Palembang, kue ini lebih dikenal dengan nama kue “delapan jam”, karena tahannya biasanya cuma 8 jam.

ImageImageImage

Kue Tanah, terbuat dari campuran gula merah, tepung. Dinamakan kue tanah karena teksturnya mirip tanah, berwarna kecoklatan, dan sedikit keras. Kalau di Bali mungkin mirip “satuh”, Cara makannya agak dihisap, agar sedikit lembek.

Tape, sudah sangat lumrah dikalangan masyarakat. Yang sedikit unik disini adalah cara mengemasnya dengan daun Jambu, sehingga aroma tape pun merupakan campuran fermentasi dan daun jambu, dan bentuknya yang unik karena dibentuk seperti dadu. Budaya Indonesia memang tak ada habisnya untuk dikagumi dan dicintai. Sekian dulu catatan ngebolang kali ini. See you😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s