Secangkir Kopi bersama Sapardi Djoko Darmono

IMG_20130812_131533“Manisnya hidup kita yang tentukan”, kata sebuah iklan gula rendah kalori terus terbayang di pikiran saya. Memulai pagi itu agak sedikit berat, apalagi di hari Senin. Kalau kata Creative Junkies, Yoris Sebastian, “I Love Monday”, mungkin ini sejenis sugesti yang antitesis, tapi hari itu sedikit berbeda, bangun dengan kondisi yang kurang fit, ah jalani saja. Suasana pagi memang menjadi obat yang ampuh bagi sebagian orang untuk memulai semangat baru, atau setidaknya me-reycle semangat lama agar tak mudah kendur.

Pagi itu saya sempatkan singgah disebuah kedai kopi milik seorang chinesse langganan sahabat saya. Menariknya rata-rata pengunjung disana adalah orang dengan umur lebih darin 40 tahun, mayoritas adalah generasi jaman “Bon Jovi”, obrolan di kedai kopi pun bisa dibilang unik, ada saja dari politik, budaya, ekonomi, hingga gosip tentang Raul Lemos dan Krisdayanti🙂

Teguk demi teguk secangkir kopi menemani bincang hangat mereka layaknya para narasumber acara “Apa Kabar Indonesia Pagi”. Saya tak mau kalah, pesanan kopi sudah datang, duduk sejenak dengan kawan (baru kenalan sih tepatnya) dan berbincang ringan. Banyak cerita yang tumpah ditengah kepulan asap kopi hitam panas pagi itu, hingga kami disatukan oleh topic tentang olahraga lari. Rupanya kawan baru saya ini memiliki hobi yang sama dengan saya, lari.

Ia mulai bercerita tentang masa mudanya yang menapaki kilometer demi kilometer untuk memuaskan hobinya ini. “Lari bukan tentang mengalahkan orang lain, tapi mengalahkan ego diri sendiri”, katanya dengan serak sambil menyeruput si hitam bercangkir. “Oya, di umur yang sekarang masih kuat lari berapa putaran pak ?”, canda saya menimpali obrolan kami. “Ya, kalo setiap hari paling 5 putaran stadion KONI lah (kira-kira 3 KM)” , sambungnya.

Dari pengalaman saya selama hampir 6 bulan di Jambi, Saya mengakui rata-rata orang chinesse lebih rajin berolahraga khususnya lari di sore hari. Entah kenapa, tapi sepertinya mereka lebih perhatian dengan kesehatan. Ya terlepas dari survey saya yang terbatas, tapi itulah yang sering saya temui. Obrolan kami mulai lebih akrab, dia banyak bercerita tentang hidup, tentang masa sulit dalam hidupnya.

“Hidup itu seperti minum kopi, Dik” Katanya memecah jeda dalam perbincangan kami. “Kamu tahu kan kopi itu pahit?”, “Iya Pak, Lalu ?” , “Sepahit-pahitnya kopi selalu ada nikmat yang terasa disetiap tegukannya, terserah kamu lebih menikmati pahitnya atau nikmatnya, begitu juga hidup, sepahit-pahitnya hidup, selalu ada nikmat jika kamu benar-benar menikmatinya, selalu bersyukur” Lanjutnya seolah memberi kuliah filosofi kepada saya.

“Ah, Pak bisa saja,hahaha” lanjut saya sembari menghabiskan tegukan kopi terakhir, kemudian mohon pamit untuk segera ke kantor. Di perjalanan kata-kata bapak tadi masih terngiang. “Benar juga ya,” celetuk saya dalam hati. “Mungkin tadi saya tak sengaja ketemu Sapardi Djoko Darmono yang lagi minum kopi, atau dia dalam penyamarannya,” canda saya. Tapi memang itulah hidup, jika kita membiarkannya mengalir maka hal hal yang tak terduga seperti itu mungkin saja terjadi dan membawa buah yang bisa kita petik sebagai bekal untuk menjalani senin pagi. Matur Suwun Pak😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s